Minggu, 20 Maret 2011

Air Borne Disease: Tubercolosis


  1. PENGERTIAN
    Tuberkulosis adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru.(Brunner & Suddarth, 2001)
    Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan Mycobacterium tuberkulosis yang hampir seluruh organ tubuh dapat terserang olehnya, tapi yang paling banyak adalah paru-paru.(IPD, FK, UI)
    Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberkulosis dan Mycobacterium bovis.(Ngastiyah, 2005)
    Tuberkulosis pulmoner adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru, dengan agen infeksius utama Mycobacterium tuberculosis.(Smeltzer & Bare, 2001)
    Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. (Price & Wilson, 1994)
    Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberkulosis yang penularannya melalui percikan ludah dari penderita tuberkulosis yang membuang dahak di sembarang tempat. Sehingga penularannya mudah terjadi pada orang lain, tetapi tidak semua orang mudah terkena tuberkulosis tergantung daya tahan tubuh yang sudah baik tidak akan mudah terkena.

  2. EPIDEMIOLOGI
    Dalam penularan infeksi Mycobacterium tuberculosis hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
    Reservour, sumber dan penularan: Manusia adalah reservoar paling umum, sekret saluran pernafasan dari orang dengan lesi aktif terbuka memindahkan infeksi langsung melalui droplet.
    Masa inkubasi: Yaitu sejak masuknya sampai timbulnya lesi primer umumnya memerlukan waktu empat sampai enam minggu, interfal antara infeksi primer dengan reinfeksi bisa beberapa tahun.
    Masa dapat menular: Selama yang bersangkutan mengeluarkan bacil Turbekel terutama yang dibatukkan atau dibersinkan.
    Immunitas: Anak dibawah tiga tahun paling rentan, karena sejak lahir sampai satu bulan bayi diberi vaksinasi BCG yang meningkatkan tubuh terhadap TBC.

  3. MEKANISME PENULARAN
  4. ETIOLOGY/PENYEBAB PENYAKIT
    TB paru disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang merupakan batang aerobic tahan asam yang tumbuh lambat dan sensitive terhadap panas dan sinar UV. Bakteri yang jarang sebagai penyebab, tetapi pernah terjadi adalah M. Bovis dan M. Avium.

  5. CARA PENANGGULANGAN
      
    a. Promotif
    • Penyuluhan kepada masyarakat apa itu TBC
    • Pemberitahuan baik melalui spanduk/iklan tentang bahaya TBC, cara penularan, cara pencegahan, faktor resiko.
    • Mensosialisasikan BCG di masyarakat.

b. Preventif
  • Vaksinasi BCG
  • Menggunakan isoniazid (INH)
  • Membersihkan lingkungan dari tempat kotor dan lembab.
  • Bila ada gejala-gejala TBC segera ke Puskesmas/RS, agar dapat diketahui secara dini
c. Kuratif
Pengobatan tuberkulosis terutama pada pemberian obat antimikroba dalam jangka waktu yang lama. Obat-obat dapat juga digunakan untuk mencegah timbulnya penyakit klinis pada seseorang yang sudah terjangkit infeksi. Penderita tuberkulosis dengan gejala knlinis harus mendapat minuman dua obat untuk mencegah timbulnya strain yang resisten terhadap obat. Kombinasi obat-obat pilihan adalah isoniazid (hidrazid asam isonikkotinat = INH) dengan etambutol (EMB) atau rifamsipin (RIF).
Dosis lazim INH untuk orang dewasa biasanya 5-10 mg/kg atau sekitar 300mg/hari, EMB, 25 mg/kg selama 60hari, kemudian 15 mg. Kg, RIF 600 mg sekali sehari. Efek samping etambutol adalah Neuritis retrobulbar disertai penurunan ketajaman penglihatan. Uji ketajaman penglihatan dianjurkan setiap bulan agar keadaan tersebut dapat diketahui. Efek samping INH yang berat jarang terjadi. Komplikasi yang paling berat adalah hepatitis. Resiko hepatitis sangat rendah pada penderita dibawah usia 20 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 60 tahun keatas. Disfungsi hati, seperti terbukti dengan peningkatan aktivitas serum aminotransferase, ditemukan pada 10-20% yang mendapat INH. Waktu minimal terapi kombinasi 18 bulan sesudah konversi biakan sputum menjadi negatif. Sesudah itu masuk harus dianjurkan terapi dengan INH saja selama satu tahun.
Baru-baru ini CDC dan American Thoracis Societty (ATS) mengeluarkan pernyataan mengenai rekomendasi kemoterapi jangka pendek bagi penderita tuberkulosis dengan riwayat tuberkulosis paru pengobatan 6 atau 9 bulan berkaitan dengan resimen yang terdiri dari INH dan RIF (tanpa atau dengan obat-obat lainnya), dan hanya diberikan pada pasien tuberkulosis paru tanpa komplikasi, misalnya : pasien tanpa penyakit lain seperti diabetes, silikosis atau kanker didiagnosis TBC setelah batuk darah, padahal mengalami batu dan mengeluarkan keringat malam sekitar 3 minggu.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.scribd.com/doc/20358065/TUBERKULOSIS-PARU

http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=1210


Nurcahyo Adinugroho
E2A009052

    Food and Water Borne Disease: KOLERA


    1. PENGERTIAN
      Kolera adalah infeksi usus akut yang disebabkan oleh konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi dengan bakteri Vibrio cholerae. Memiliki masa inkubasi singkat dan menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan, berlimpah tanpa rasa sakit, diare berair yang cepat dapat menyebabkan dehidrasi parah dan kematian jika pengobatan tidak segera diberikan. Muntah juga terjadi pada kebanyakan pasien.
      Kebanyakan orang yang terinfeksi dengan V. cholerae tidak menjadi sakit, meskipun bakteri ini hadir dalam kotoran mereka selama 7-14 hari. Ketika penyakit itu terjadi, sekitar 80-90% dari episode keparahan ringan atau sedang dan sulit untuk membedakan secara klinis dari jenis lain diare akut. Kurang dari 20% dari orang yang sakit mengembangkan kolera khas dengan tanda-tanda dehidrasi sedang atau berat.
      Kolera tetap menjadi ancaman global dan merupakan salah satu indikator kunci pembangunan sosial. Sedangkan penyakit tidak lagi menimbulkan ancaman bagi negara-negara dengan standar minimum kebersihan, itu tetap merupakan tantangan bagi negara-negara di mana akses terhadap air minum yang aman dan sanitasi yang memadai tidak dapat dijamin. Hampir setiap negara berkembang menghadapi wabah kolera atau ancaman epidemi kolera.
    2. EPIDEMIOLOGI
      Semua orang diyakini rentan terhadap infeksi, tetapi individu dengan kekebalan rusak atau belum berkembang, keasaman lambung kurang, atau kekurangan gizi dapat menderita bentuk yang lebih parah dari penyakit.
      Bakteri ini bertanggung jawab untuk Asia atau epidemi cholera. Tidak ada wabah besar yang telah terjadi di Amerika Serikat sejak tahun 1911. Namun, kasus sporadis terjadi antara 1973 dan 1991, menyarankan reintroduksi kemungkinan organisme masuk ke dalam lingkungan kelautan dan muara sungai Amerika Serikat. Kasus-kasus antara tahun 1973 dan 1991 dikaitkan dengan konsumsi kerang yang mentah atau kerang yang salah cara pemasakannya atau re-terkontaminasi setelah memasak yang tepat. Studi lingkungan telah menunjukkan bahwa strain organisme ini dapat ditemukan di muara sungai beriklim sedang dan kawasan pesisir laut sekitar Amerika Serikat.
      Pada tahun 1991 penyakit kolera dilaporkan untuk kali pertama dalam abad ini di Amerika Selatan, mulai di Peru. Wabah cepat tumbuh proporsi epidemi dan menyebar ke Amerika Selatan dan Amerika Tengah lainnya negara, dan ke Meksiko. 1.099.882 kasus dan 10.453 kematian dilaporkan di Belahan Barat antara Januari 1991 dan Juli 1995.
      Meskipun Amerika Selatan strain V. cholerae O1 telah diisolasi dari perairan Teluk Pantai, mungkin ditularkan oleh kapal off-loading air pemberat yang terkontaminasi, tidak ada kasus penyakit kolera telah dihubungkan dengan ikan atau kerang yang dipanen dari perairan AS. Namun, lebih dari 100 kasus penyakit kolera disebabkan oleh jenis Amerika Selatan telah dilaporkan di Amerika Serikat. Kasus-kasus ini adalah wisatawan yang kembali dari Amerika Selatan, atau berhubungan dengan ilegal diselundupkan, krustasea suhu-disalahgunakan dari Amerika Selatan.
      Pada musim gugur tahun 1993, sebuah strain baru, non-O1 belum pernah diidentifikasi, telah terlibat dalam wabah penyakit kolera di Bangladesh dan India. Organisme, V. cholerae O139 serogrup (Bengal), menyebabkan gejala karakteristik penyakit kolera parah. Penyakit sebelumnya dengan V. cholerae O1 tidak memberi kekebalan dan penyakit sekarang endemik. Di Amerika Serikat, V. cholerae O139 telah terlibat dalam satu kasus, seorang pengelana kembali dari India. Strain belum dilaporkan di perairan atau kerang Amerika Serikat.
    3. FREKUENSI
      Lebih dari 200 kasus yang telah terbukti penyakit kolera telah dilaporkan di AS sejak tahun 1973, dengan 90% terjadi dalam 5 tahun terakhir. Sebagian besar kasus yang terdeteksi hanya setelah investigasi epidemiologi. Mungkin lebih banyak kasus sporadis telah terjadi, namun sudah tidak terdiagnosis atau dilaporkan.
    4. MEKANISME PENULARAN
      Kebanyakan bakteri, bila dikonsumsi, tidak bertahan hidup dengan kondisi asam dari lambung manusia. Beberapa bakteri yang bertahan menghemat energi dan nutrisi disimpan selama perjalanan melalui perut dengan menutup produksi protein banyak. Ketika bakteri yang masih hidup keluar lambung dan mencapai usus kecil, mereka harus mendorong diri mereka sendiri melalui lendir tebal yang melapisi usus kecil untuk sampai ke dinding usus, di mana mereka dapat berkembang. Bakteri V. cholerae memulai produksi protein flagellin silinder berongga untuk membuat flagela, serat heliks gabus-sekrup mereka berputar untuk mendorong diri mereka sendiri melalui lendir dari usus kecil.
      Setelah bakteri kolera mencapai dinding usus, mereka tidak perlu lagi baling-baling flagela untuk bergerak. Bakteri berhenti memproduksi flagellin protein, sehingga lagi menghemat energi dan nutrisi dengan mengubah campuran protein yang mereka memproduksi dalam menanggapi lingkungan kimia berubah. Saat mencapai dinding usus, V. cholerae mulai memproduksi protein beracun yang memberikan orang yang terinfeksi diare berair. Ini membawa generasi baru mengalikan bakteri V. cholerae keluar ke dalam air minum tuan rumah jika langkah-langkah sanitasi yang tepat tidak pada tempatnya.
      Toksin kolera (kotri atau CT) adalah sebuah kompleks oligomer terdiri dari enam subunit protein: satu salinan dari subunit A (bagian A), dan lima salinan dari subunit B (bagian B), dihubungkan oleh ikatan disulfida. Kelima B subunit membentuk lima cincin beranggota yang mengikat untuk GM1 gangliosides pada permukaan sel epitel usus. Bagian A1 dari subunit adalah sebuah enzim yang ADP-ribosylates protein G, sedangkan rantai A2 cocok ke dalam pori-pori pusat dari cincin subunit B. Setelah mengikat, kompleks ini diambil ke dalam sel melalui endositosis reseptor-mediated. Setelah masuk sel, ikatan disulfida berkurang, dan subunit A1 dibebaskan untuk mengikat dengan protein pasangan manusia yang disebut ADP-ribosylation faktor 6 (Arf6). Binding memperlihatkan situs aktif, yang memungkinkan untuk secara permanen ribosylate yang Gs alpha subunit dari protein G heterotrimeric. Hal ini menyebabkan produksi cAMP konstitutif, yang pada gilirannya menyebabkan sekresi H2O, Na +, K +, Cl-, dan HCO3-ke dalam lumen usus dan dehidrasi cepat kecil. Pengkodean gen toksin kolera diperkenalkan ke V. cholerae oleh transfer gen horizontal. virulen strain V. cholerae membawa varian dari lisogenik bakteriofag disebut CTXf atau CTXφ.
      Mikrobiologi telah mempelajari mekanisme genetik di mana bakteri V. cholerae mematikan produksi beberapa protein dan menghidupkan produksi protein lain sebagai respon mereka terhadap serangkaian lingkungan kimia mereka hadapi, melewati perut, melalui lapisan lendir usus kecil, dan pada dinding usus. Yang menarik miliki. menjadi mekanisme genetik dengan bakteri kolera yang menghidupkan produksi protein racun yang berinteraksi dengan mekanisme sel inang untuk memompa ion klorida ke dalam usus kecil, menciptakan tekanan ionik yang mencegah ion natrium memasuki sel. Ion klorida dan natrium menciptakan lingkungan garam-air di usus kecil, yang melalui osmosis dapat menarik sampai enam liter air per hari melalui sel-sel usus, menciptakan sejumlah besar diare. Tuan rumah bisa menjadi cepat dehidrasi jika campuran yang tepat encer air garam dan gula tidak diambil untuk menggantikan air dan garam darah hilang dalam diare.
      Dengan menyisipkan terpisah, bagian yang berurutan DNA V. cholerae ke dalam DNA bakteri lainnya, seperti E. coli yang tidak akan secara alami menghasilkan racun protein, para peneliti telah menyelidiki mekanisme yang V. cholerae merespon perubahan lingkungan kimia dari perut, lapisan lendir, dan dinding usus. Para peneliti telah menemukan ada riam kompleks protein regulator yang mengontrol ekspresi determinan virulensi V. cholerae. Dalam menanggapi lingkungan kimia di dinding usus, bakteri V. cholerae menghasilkan TcpP / protein TcpH, yang bersama-sama dengan / ToxR ToxS protein, mengaktifkan ekspresi dari protein ToxT regulasi. ToxT kemudian langsung mengaktifkan ekspresi gen virulensi yang menghasilkan racun, menyebabkan diare pada orang yang terinfeksi dan memungkinkan bakteri untuk menjajah usus. Penelitian kini bertujuan untuk menemukan "sinyal yang membuat bakteri kolera berhenti berenang dan mulai menjajah (yaitu, mematuhi sel-sel) usus kecil."
    5. ETIOLOGY/PENYEBAB PENYAKIT
      Ada dua jenis V. cholerae yang berpotensi sebagai patogen pada manusia. Jenis utama yang menyebabkan kolera adalah V. cholerae O1, sedangkan jenis-jenis lainnya dikenal sebagai non-O1.
      V. cholerae
      O1 adaalah penyebab kolera Asiatik atau kolera epidemik. Kasus kolera sangat jarang terjadi di Eropa dan Amerika Utara. Sebagian besar kasus kolera terjadi di daerah-daerah (sub)-tropis. Kolera selalu disebabkan oleh air yang tercemar atau ikan (atau kerang) yang berasal dari perairan yang tercemar.
      V. cholerae
      non-O1 hanya menginfeksi manusia dan hewan primata lainnya. Organisme ini berkerabat dengan V. cholerae O1, tetapi penyakit yang ditimbulkannya tidak separah kolera. Strain patogenik dan non-patogenik dari organisme ini merupakan penghuni normal di lingkungan air laut dan muara. Organisme ini pada masa lalu disebut sebagai non-cholera vibrio (NCV) dan nonagglutinable vibrio (NAG).
    1. CARA PENANGGULANGAN
      Penderita yang mengalami penyakit kolera harus segera mandapatkan penaganan segera, yaitu dengan memberikan pengganti cairan tubuh yang hilang sebagai langkah awal. Pemberian cairan dengan cara Infus/Drip adalah yang paling tepat bagi penderita yang banyak kehilangan cairan baik melalui diare atau muntah. Selanjutnya adalah pengobatan terhadap infeksi yang terjadi, yaitu dengan pemberian antibiotik/antimikrobial seperti Tetrasiklin, Doxycycline atau golongan Vibramicyn. Pengobatan antibiotik ini dalam waktu 48 jam dapat menghentikan diare yang terjadi.
      Pada kondisi tertentu, terutama diwilayah yang terserang wabah penyakit kolera pemberian makanan/cairan dilakukan dengan jalan memasukkan selang dari hidung ke lambung (sonde). Sebanyak 50% kasus kolera yang tergolang berat tidak dapat diatasi (meninggal dunia), sedangkan sejumlah 1% penderita kolera yang mendapat penanganan kurang adekuat meninggal dunia.
      Cara pencegahan dan memutuskan tali penularan penyakit kolera adalah dengan prinsip sanitasi lingkungan, terutama kebersihan air dan pembuangan kotoran (feaces) pada tempatnya yang memenuhi standar lingkungan. Lainnya ialah meminum air yang sudah dimasak terlebih dahulu, cuci tangan dengan bersih sebelum makan memakai sabun/antiseptik, cuci sayuran dangan air bersih terutama sayuran yang dimakan mentah (lalapan), hindari memakan ikan dan kerang yang dimasak setengah matang.
      Bila dalam anggota keluarga ada yang terkena kolera, sebaiknya diisolasi dan secepatnya mendapatkan pengobatan. Benda yang tercemar muntahan atau tinja penderita harus di sterilisasi, searangga lalat (vektor) penular lainnya segera diberantas. Pemberian vaksinasi kolera dapat melindungi orang yang kontak langsung dengan penderita.
    2. Daftar Pustaka 
    Nurcahyo Adinugroho
    E2A009052

    Kamis, 16 Desember 2010

    Kejadian Luar Biasa

    KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)
    Kejadian luar biasa (KLB) masih sering terjadi di Indonesia. KLB ini mempunyai makna social dan politik tersendiri oleh karena peristiwanya yang demikian mendadak, mengenai banyak orang dan dapat menimbulkan banyak kematian.
    Penyakit menular yang potensial menimbulkan wabah di Indonesia dicantumkan Permenkes 560/MENKES/PER/VIII/1989 tentang Penyakit potensial wabah :
    1. Kholera
    2. Pertusis
    3. Pes
    4. Rabies
    5. Demam Kuning
    6. Malaria
    7. Demam Bolak-balik
    8. Influenza
    9. Tifus Bercak wabah
    10. Hepatitis
    11. DBD
    12. Tifus perut
    13. Campak
    14. Meningitis
    15. Polio
    16. Ensefalitis
    17. Difteri
    18. Antraks
    Pengertian kejadian luar biasa (KLB) adalh timbulnya atau meningkatnya kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis dalam kurun waktu dan daerah tertentu.
    Batasan KLB meliputi arti yang luas, yang dapat diuraikan sebagai berikut :
    • Meliputi semua kejadian penyakit, dapat suatu penyakit infeksi akut kronis ataupun penyakit non infeksi.
    • Tidak ada batasan yang dapat dipakai secara umum untuk menentukan jumlah penderita yang dapat dikatakan sebagai KLB. Hal ini selain karena jumlah kasus sangat tergantung dari jenis dan agen penyebabnya, juga karena keadaan penyakit akan bervariasi menurut tempat (tempat tinggal, pekerjaan) dan waktu (yang berhubungan dengan keadaan iklim) dan pengalaman keadaan penyakit tersebut sebelumnya.
    • Tidak ada batasan yang spesifik mengenai luas daerah yang dapat dipakai untuk menentukan KLB, apakah dusun desa, kecamatan, kabupaten atau meluas satu propinsi dan Negara. Luasnya daerah sangat tergantung dari cara penularan penyakit tersebut.
    • Waktu yang digunakan untuk menentukan KLB juga bervariasi. KLB dapat terjadi dalam beberapa jam, beberapa hari atau minggu atau beberapa bulan maupun tahun.
    A. Kriteria Kerja Kejadian Luar Biasa (KLB)
    KLB meliputi hal yang sangat luas seperti sampaikan pada bagian sebelumnya, maka untuk mempermudah penetapan diagnosis KLB, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Dirjen PPM&PLP No. 451-I/PD.03.04/1999 tentang Pedoman Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan KLB telah menetapkan criteria kerja KLB yaitu :
    1. Timbulnya suatu penyakit/menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal
    2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya.
    3. Peningkatan kejadian/kematian > 2 kali dibandingkan dengan periode sebelumnya
    4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan >2 kali bila dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan tahun sebelumnya
    5. Angka rata-rata perbulan selama satu tahun menunjukkan kenaikkan > 2 kali dibandingkan angka rata-rata per bulan tahun sebelumnya.
    6. CFR suatu penyakit dalam satu kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikkan 50 % atau lebih dibanding CFR periode sebelumnya.
    7. Proporsional Rate penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikkan > 2 kali dibandingkan periode yang sama dan kurun waktu/tahun sebelumnya.
    Beberapa penyakit khusus : Kholera, DHF/DSS
    Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis)
    Terdapat satu/lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit tersebut
    Beberapa penyakit yang dialami 1 atau lebih penderita :
    a. Keracunan makanan
    b. Keracunan pestisida
    B. Kekebalan Kelompok (Herd Immunity)
    Adalah tingkat kemampuan atau daya tahan suatu kelompok penduduk tertentu terhadap serangan atau penyebaran unsur penyebab penyakit menular tertentu berdasarkan tingkat kekebalan sejumlah tertentu anggota kelompok tersebut.
    Herd Immunity merupakan faktor utama dalam proses kejadian wabah di masyarakat serta kelangsungan penyakit pada suatu kelompok penduduk tertentu.
    Wabah terjadi karena 2 keadaan :
    1. Keadaan kekebalan populasi yakni suatu wabah besar dapat terjadi jika agent penyakit infeksi masuk ke dalam suatu populasi yang tidak pernah terpapar oleh agen tersebut atau kemasukan suatu agen penyakit menular yang sudah lama absen dalam populasi tersebut.
    2. Bila suatu populasi tertutup seperti asrama, barak dimana keadaan sangat tertutup dan mudah terjadi kontak langsung, masuknya sejumlah orang-orang yang peka terhadap penyakit tertentu dalam populasi tsb. Ex: Asrama mahasiswa/tentara.
    C. Langkah-Langkah jika terjadi wabah
    LANGKAH-LANGKAH INVESTIGASI WABAH
    1. Konfimasi / menegakkan diagnosa
    • Definisi kasus
    • Klasifikasi kasus dan tanda klinik
    • Pemeriksaan laboratorium
    2. Menentukan apakah peristiwa itu suatu letusan/wabah atau bukan
    • Bandingkan informasi yang didapat dengan definisi yang sudah ditentukan tentang KLB
    • Bandingkan dengan incidende penyakit itu pada minggu/bulan/tahun sebelumnya
    3. Hubungan adanya letusan/wabah dengan faktor-faktor waktu, tempat dan orang
    • Kapan mulai sakit (waktu)
    • Dimana mereka mendapat infeksi (tempat)
    • Siapa yang terkena : (Gender, Umur, imunisasi, dll)
    4. Rumuskan suatu hipotesa sementara
    • Hipotesa kemungkinan : penyebab, sumber infeksi, distribusi penderita (pattern of disease)
    • Hipotesa : untuk mengarahkan penyelidikan lebih lanjut
    5. Rencana penyelidikan epidemiologi yang lebih detail Untuk menguji hipotesis :
    • Tentukan : data yang masih diperlukan sumber informasi
    • Kembangkan dan buatkan check list.
    • Lakukan survey dengan sampel yang cukup
    6. Laksanakan penyelidikan yang sudah direncanakan
    Lakukan wawancara dengan :
    a. Penderita-penderita yang sudah diketahui (kasus)
    b. Orang yang mempunyai pengalaman yang sama baik mengenai waktu/tempat terjadinya penyakit, tetapi mereka tidak sakit (control)
    • Kumpulkan data kependudukan dan lingkungannya
    • Selidiki sumber yang mungkin menjadi penyebab atau merupakan faktor yang ikut berperan
    • Ambil specimen dan sampel pemeriksa di laboratorium
    7. Buatlah analisa dan interpretasi data
    • Buatlah ringkasan hasil penyelidikan lapangan
    • Tabulasi, analisis, dan interpretasi data/informasi
    • Buatlah kurva epidemik, menghitung rate, buatlah tabel dan grafik-grafik yang diperlukan
    • Terapkan test statistik
    • Interpretasi data secara keseluruhan
    8.Test hipotesa dan rumuskan kesimpulan
    • Lakukan uji hipotesis
    • Hipotesis yang diterima, dpt menerangkan pola penyakit :
    a. Sesuai dengan sifat penyebab penyakit
    b. Sumber infeksi
    c. Cara penularan
    d. Faktor lain yang berperan
    9. Lakukan tindakan penanggulangan
    • Tentukan cara penanggulangan yang paling efektif.
    • Lakukan surveilence terhadap penyakit dan faktor lain yang berhubungan.
    • Tentukan cara pencegahan dimasa akan datang
    10. Buatlah laporan lengkap tentang penyelidikan epidemiologi tersebut.
    • Pendahuluan
    • Latar Belakang
    • Uraian tentang penelitian yang dilakukan
    • Hasil penelitian
    • Analisis data dan kesimpulan
    • Tindakan penanggulangan
    • Dampak-dampak penting
    • Saran rekomendasi
    D. Penanggulangan KLB
    Penanggulangan KLB :
    Upaya penanggulangan ini meliputi pencegahan penyebaran KLB, termasuk pengawasan usaha pencegahan tersebut dan pemberantasan penyakitnya. Upaya penanggulangan KLB yang direncanakan dengan cermat dan dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait secara terkoordinasi dapat menghentikan atau membatasi penyebarluasan KLB sehingga tidak berkembang menjadi suatu wabah (Depkes, 2000).
    Penanggulangan KLB dikenal dengan nama Sistem Kewaspadaan Dini (SKD-KLB), yang dapat diartikan sebagai suatu upaya pencegahan dan penanggulangan KLB secara dini dengan melakukan kegiatan untuk mengantisipasi KLB. Kegiatan yang dilakukan berupa pengamatan yang sistematis dan terus-menerus yang mendukung sikap tanggap/waspada yang cepat dan tepat terhadap adanya suatu perubahan status kesehatan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data kasus baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi terjadi KLB secara mingguan sebagai upaya SKD-KLB. Data-data yang telah terkumpul dilakukan pengolahan dan analisis data untuk penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi (Dinkes Kota Surabaya, 2002).
    Berdasarkan Undang-undang No. 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular serta Peraturan Menteri Kesehatan No. 560 tahun 1989, maka penyakit DBD harus dilaporkan segera dalam waktu kurang dari 24 jam. Undang-undang No. 4 tahun 1984 juga menyebutkan bahwa wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat, yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Dalam rangka mengantisipasi wabah secara dini, dikembangkan istilah kejadian luar biasa (KLB) sebagai pemantauan lebih dini terhadap kejadian wabah. Tetapi kelemahan dari sistem ini adalah penentuan penyakit didasarkan atas hasil pemeriksaan klinik laboratorium sehingga seringkali KLB terlambat diantisipasi (Sidemen A., 2003).
    Badan Litbangkes berkerja sama dengan Namru 2 telah mengembangkan suatu sistem surveilans dengan menggunakan teknologi informasi (computerize) yang disebut dengan Early Warning Outbreak Recognition System (EWORS). EWORS adalah suatu sistem jaringan informasi yang menggunakan internet yang bertujuan untuk menyampaikan berita adanya kejadian luar biasa pada suatu daerah di seluruh Indonesia ke pusat EWORS secara cepat (Badan Litbangkes, Depkes RI). Melalui sistem ini peningkatan dan penyebaran kasus dapat diketahui dengan cepat, sehingga tindakan penanggulangan penyakit dapat dilakukan sedini mungkin. Dalam masalah DBD kali ini EWORS telah berperan dalam hal menginformasikan data kasus DBD dari segi jumlah, gejala/karakteristik penyakit, tempat/lokasi, dan waktu kejadian dari seluruh rumah sakit DATI II di Indonesia (Sidemen A., 2003)

    Penyelidikan Epidemiologi

    Penyelidikan Epidemiologi terbagi dua, yakni :
    a. Penyelidikan Epidemiologi penyakit menular seperti malaria, TB Paru, campak
    b. Penyelidikan Epidemiologi penyakit tidak menular seperti kematian ibu dan lahir mati/kematian bayi.

    Berikut ini penjelasannya:

    MALARIA
    Pertama kita harus menyelidiki apakah benar di suatu wilayah tersebut terkena malaria?
    Gejala penyakit malaria
    1. Gejala malaria ringan :
    - Demam menggigil secara berkala dan biasanya disertai sakit kepala
    - Pucat karena kurang darah
    - Kadang-kadang di mulai dengan badan terasa lemah, mual/muntah tidak nafsu makan.
    - Gejala spesifik daerah, seperti diare pada anak
    2. Gejala malaria Berat :
    - Kejang-kejang
    - Kehilangan kesadaran
    - Kuning pada mata
    - Panas tinggi
    - Kencing berwarna tua
    - Nafas cepat
    - Muntah terus
    - Pingsan sampai koma
    Bila terbukti di suatu wilayah tidak ada orang yang terkena malaria maka kita hanya perlu melakukan penyuluhan untuk penyegahan
    a. Menghindari gigitan nyamuk, Tidur memakai kelambu, menggunakan obat nyamuk, memakai obat oles anti nyamuk, pasang kawat kasa pada ventilasi, menjauhkan kandang ternak dari rumah, kurangi berada di luar rumah pada malam hari.
    b. Pengobatan pencegahan, 2 hari sebelum berangkat ke daerah malaria, minum obat doksisilin 1 x 1 kapsul/ hari sampai 2 minggu setelah keluar dari lokasi endemis malaria.
    c. Membersihkan lingkungan, Menimbun genangan air, membersihkan lumut, gotong royong membersihkan lingkungan sekitar, mencegahnya dengan kentongan.
    d. Menebar kan pemakan jentik, Menekan kepadatan nyamuk dengan menebarkan ikan pemakan jentik. Seperti ikan kepala timah, nila merah, gupi, mujair dll.
    Bila terbukti positif di suatu wilayah banyak yang terkena malaria maka tidak hanya di lakukan penyuluhan tetapi juga dilakukan pengobatan
    Ada tiga faktor yang harus diperhatikan dalam pengobatan malaria yaitu : jenis plasmodium yang menginfeksi, keadaan klinis pasien (usia dan kehamilan) dan jenis obat yang cocok untuk plasmodium penginfeksi. Jenis obat yang cocok terggantung dari daerah geografis tempat plasmodium tersebut hidup. Hal tersebut karena adanya plasmodium yang sudah resisten terhadap beberapa obat pada daerah daerah tertentu. Jadi pengobatan malaria tidaklah bisa dikatakan mudah. Diperlukan dokter yang berpengalaman dalam hal ini untuk dapat memberikan pengobatan yang pas.
    Malaria ringan dapat diberikan obat oral sedangkan malaria berat yang mempunyai gejala klinis perdarahan harus di observasi di rumah sakit dengan pengobatan intra vena.

    Tuberculosis Paru (TB Paru)
    Sama seperti malaria, kita harus memastikan apakah benar suatu wilayah, warganya banyak yang terserang TB klo tidak maka kita bias melakukan pencegahan dengan dilakukan penyuluhan dan pengertian tentang apa itu TB dan bagaimana gejalanya
    • Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih
    Dan Gejala lain yang sering dijumpai :
    • Dahak bercampur darah
    • Batuk darah
    • Sesak nafas dan rasa nyeri dada
    • Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun, rasa kurang enak badan(malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari satu bulan.
    Bila sudah terbukti banyak yang terkena kita harus segera memberikan pebgobatan . Program pengobatan dikenal dengan nama DOTS (Direct Observed Treatment Shortcourse). Obat yang digunakan adalah kombinasi dari Rifampicin, Isoniazid, Pyrazinamid, Ethambutol, dan Streptomycin. Pengobatan dilakukan dalam waktu 6-8 bulan secara intensif dengan diawasi seorang PMO (Pengawas Menelan Obat) untuk meningkatkan ketaatan penderita dalam minum obat.

    CAMPAK
    Sebenarnya campak adalah jenis penyakit yang sudah banyak di ketahui orang bahkan sekarang anak anak sudah di imunisasi salah satunya imunisasi dari penyakit campak. Jadi bila ada anak-anak atau orang dewasa yang terkena campak iyu sudah hal ynag dewasa dan campak bisanya menulari manusia sekali dalam seumur hidup.jadi bila di temukan ada yang terkena campak segera lakukan pengobatan
    Pengobatan campak dilakukan dengan mengobati gejala yang timbul. Demam yang terjadi akan ditangani dengan obat penurun demam. Jika anak mengalami diare maka diberi obat untuk mengatasi diarenya. Batuk akan diatasi dengan mengobati batuknya. Dokter pun akan menyiapkan obat anti kejang bila anak punya bakat kejang.
    Intinya, segala gejala yang muncul harus diobati karena jika tidak, maka campak bisa berbahaya. Dampaknya bisa bermacam-macam, bahkan bisa terjadi komplikasi. Perlu diketahui, penyakit campak dikategorikan sebagai penyakit campak ringan dan yang berat. Disebut ringan, bila setelah 1-2 hari pengobatan, gejala-gejala yang timbul membaik. Disebut berat bila pengobatan yang diberikan sudah tak mempan karena mungkin sudah ada komplikasi.
    Komplikasi dapat terjadi karena virus campak menyebar melalui aliran darah ke jaringan tubuh lainnya. Komplikasi ini bisa terjadi cepat selama berlangsung penyakitnya.
    Gejala ensefalitis yaitu kejang satu kali atau berulang, kesadaran anak menurun, dan panasnya susah turun karena sudah terjadi infeksi “tumpangan” yang sampai ke otak. Lain halnya, komplikasi radang paru-paru ditandai dengan batuk berdahak, pilek, dan sesak napas. Jadi, kematian yang ditimbulkan biasanya bukan karena penyakit campak itu sendiri, melainkan karena komplikasi. Umumnya campak yang berat terjadi pada anak yang kurang gizi.
    Anjuran :
    - Bila  campaknya ringan, anak cukup dirawat di rumah. Kalau campaknya berat atau sampai terjadi komplikasi maka harus dirawat di rumah sakit.
    - Anak  perlu dirawat di tempat tersendiri agar tidak menularkan penyakitnya kepada yang lain. Apalagi bila ada bayi di rumah yang belum mendapat imunisasi .
    - Beri penderita asupan makanan bergizi seimbang dan  cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Makanannya harus mudah dicerna, karena anak campak rentan terjangkit infeksi lain, seperti radang tenggorokan, flu, atau lainnya. Masa rentan ini masih berlangsung sebulan setelah sembuh karena daya tahan tubuh penderita yang masih lemah.
    - Lakukan pengobatan yang tepat dengan berkonsultasi pada dokter.
    - Jaga kebersihan tubuh anak dengan tetap memandikannya.
    - Anak perlu beristirahat yang cukup.

    Kematian Ibu
    Kematian ibu bukan 100% dikarenakan suatu penyakit akan tetapi bisa karena pendarahan atau salah dalam penanganan saat melahirkan (kecelakaan). Oleh karena jenis ini paling cocok bila dicegah dari pada di obati.

    Faktor risiko bagi kematian ibu (mortalitas) antara lain:
    Faktor-faktor reproduksi
    1.       Usia
    2.       Paritas
    3.       Kehamilan tak diinginkan


    Faktor-faktor komplikasi kehamilan
    1. Perdarahan pada abortus spontan/alamiah
    2. Kehamilan ektopik/diluar cavum endometrium
    ·         Perdarahan pada trimester III kehamilan
    ·         Perdarahan postpartum
    ·         Infeksi nifas
    ·         Gestosis/keracunan kehamilan
    ·         Distosia/kesulitan persalinan
    ·         Abortus provokatus

    Faktor-faktor pelayanan kesehatan
    ·         Kesukaran untuk memperoleh pelayanan kesehatan
    ·         Asuhan medis yang kurang baik
    ·         Kekurangan tenaga terlatih dan obat-obat esensial

    Faktor-faktor sosial budaya
    ·         Kemiskinan dan ketidakmampuan membayar pelayanan yang baik
    ·         Ketidaktahuan dan kebodohan
    ·         Kesulitan transportasi
    ·         Status wanita yang rendah
    ·         Pantangan makanan tertentu pada wanita hamil

    Pencegahan yang bisa di lakukan :
    • Kurangi resiko melahirkan seminimal mungkin, melahirkan di rumah sakit atau melahirkan dengan di bantu tenaga medis yang sudah ahli dan pakarnya dalam hal membantu persalinan, pilih tempat yang fasilitasnya memenuhi.
    • Rajin periksa ketika hamil terutama ketika waktu mau melahirkan agar abisa di rencanakan sejak dini
    • Ikuti prosedur yang sudah di tentukan oleh pemerintah. Contoh tidak boleh melahirkan di bawah umur 17 tahun.

     
    Kematian Bayi
    Hampir Sama seperti kematian ibu, saya hanya bisa memberikan saran bagaimana mengurangi resiko kematian bayi secara mendadak
    • Usahakan bayi tidur dalam boks yang tidak dipenuhi mainan Gunakan boks bayi untuk menghindari risiko jatuh. Cara ini lebih aman untuk melindungi bayi Anda, ketimbang meletakkan boneka, bantal ataupun selimut tebal di pinggir ranjang.
    • Lindungi bayi Anda dari asap rokok Bayi yang menghirup asap rokok mempunyai risiko yang lebih tinggi terserang sidroma mematikan ini. Tidak merokok selama kehamilan dan tidak mendekatkan bayi Anda pada asap merokok setelah lahir bisa membantu Anda menjaga buah hati.
    • Biarkan bayi terlelap lebih lama Sebaiknya tidak menidurkan bayi di atas sofa atau ranjang Anda. Karena, jika diletakkan pada permukaan datar, hal itu justru akan mengurangi porsi tidur si kecil. Biarkan si kecil tidur nyenyak dalam boks atau ayunan bayi lebih lama.
    • Kenakan busana berbahan nyaman saat menimang bayi Pakaian yang Anda kenakan ternyata bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan tersendiri untuk si kecil, pilih pakaian dengan bahan nyaman dan menyerap keringat, seperti katun. Perlu Anda tahu, bahan pakaian juga bisa menjaga suhu pada tingkat nyaman untuk orang dewasa dan untuk menjaga bayi agar tetap tenang.
    • Gunakan kipas Cara mudah untuk menjaga bayi Anda dari overheating adalah dengan menggunakan kipas angin di kamar bayi. Cara ini dinilai bisa membantu mendinginkan udara dalam kamar. Pada kenyataannya, sebuah studi dari Archives of Pediatrics melaporkan bahwa bayi yang tidur di kamar bayi menggunakan kipas udara ventiliate bisa mengalahkan 72% penurunan risiko sidroma kematian bayi secara mendadak ini. Jika Anda tidak memiliki kipas angin di kamar bayi, bisa menggunakan kipas manual. Usahakan angin dari kipas tidak langsung mengenai si kecil, karena sedikit hembusan angin lembut saja sudah bisa membuat bayi Anda tenang dan nyaman.

    Epidemiologi dan Peranannya didalam Pemecahan Masalah Kesehatan Masyarakat

    1. Pengertian Epidemiologi
    Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang distribusi penyakit dan determinannya pada manusia (Mac Mahon & Pugh, 1970). Distribusi penyakit dapat dideskripsikan menurut orang (usia, jenis kelamin, ras), tempat (penyebaran geografis), dan waktu, sedangkan pengkajian determinan penyakit mencakup penjelasan pola distribusi penyakit tersebut menurut faktor-faktor penyebabnya.
    2. Ruang Lingkup Epidemiologi
    Ruang lingkup epidemiologi mencakup:

    • Penyakit menular wabah
    • Penyakit menular bukan wabah
    • Penyakit tidak menular
    • Masalah kesehatan lainnya
    Secara praktis ruang lingkup epidemiologi lapangan dan komunitas dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu studi mengenai fenomena dan studi mengenai penduduk, sedangkan ruang lingkup epidemiologi klinik yang mempelajari mengenai peristiwa klinik serta kaitannya dengan riwayat alamiah penyakit.
    Keunikan epidemiologi jika dibandingkan dengan cabang-cabang ilmu kedokteran dan ilmu kesehatan lain adalah:
    1. Epidemiologi tidak mempelajari individu, melainkan kelompok orang.
    2. Epidemiologi membandingkan satu kelompok dengan kelompok lainnya dalam masyarakat.
    3. Epidemiologi mempelajari apakah kelompok dengan kondisi tertentu lebih sering memiliki kondisi tertentu daripada kelompok tanpa kondisi tersebut. Kelompok yang lebih sering memiliki kondisi tertentu tersebut dinamakan kelompok beresiko tinggi (high risk group).
    3. Tujuan Studi Epidemiologi
    Tujuan studi epidemiologi adalah:
    1. Mendiagnosis masalah kesehatan masyarakat.
    2. Menentukan riwayat alamiah dan etiologi penyakit.
    3. Menilai dan merencanakan pelayanan kesehatan.
    Ketiga tujuan tersebut dicapai dengan melakukan surveilans epidemiologi dan penelitian epidemiologi.
    Surveilans epidemiologi meliputi:
    1. Pengumpulan data secara sistematis dan kontinyu.
    2. Pengolahan, analisis dan interpretasi data sehingga menghasilkan informasi.
    3. Penyebarluasan informasi tersebut kepada instansi yang berkepentingan.
    4. Penggunaan informasi tersebut untuk pemantauan, penilaian, dan perencanaan program kesehatan.
    4. Manfaat Epidemiologi

    Apabila epidemiologi dapat dipahami dan diterapkan dengan baik, akan diperoleh berbagai manfaaat yang jika disederhanakan dapat dibedakan menjadi 4 macam, yaitu:
    1. Membantu pekerjaan administrasi kesehatan
      Manfaat epidemiologi dalam administrasi kesehatan, yakni membantu pekerjaan perencanaan (planning) dari pelayanan kesehatan. Selain itu, epidemiologi juga bermanfaat dalam pemantauan (monitoring) dan penilaian (evaluation) suatu upaya kesehatan. Data yang diperoleh dari pekerjaan epidemiologi akan dapat dimanfaatkan untuk melihat apakah upaya yang dilakukan telah sesuai dengan rencana atau tidak (pemantauan) dan ataukah tujuan yang diterapkan telah tercapai atau tidak (penilaian).
    2. Dapat menerangkan penyebab suatu masalah kesehatan
      Dengan diketahuinya penyebab suatu masalah kesehatan, dapat disusun langkah-langkah penanggulangan selanjutnya, baik yang bersifat pencegahan dan ataupun yang bersifat pengobatan.
    3. Dapat menerangkan perkembangan alamiah suatu penyakit
      Dengan menggunakan metoda epidemiologi dapatlah diterangkan riwayat alamiah perkembangan suatu penyakit (natural history of disease). Bantuan epidemiologi dalam menerangkan perkembangan alamiah suatu penyakit adalah melalui pemanfaatan keterangan tentang frekuensi dan penyebaran penyakit, terutama penyebaran penyakit menurut waktu muncul dan berakhirnya suatu penyakit, dapatlah diperkirakan perkembangan penyakit tersebut.
    4. Dapat menerangkan keadaan suatu masalah kesehatan
      Karena epidemiologi mempelajari tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan, maka akan diperoleh keterangan tentang keadaan masalah kesehatan tersebut. Keadaan yang dimaksud merupakan perpaduan dari keterangan menurut ciri-ciri manusia, tempat dan waktu. Perpaduan yang seperti ini menghasilkan 4 keadaan masalah kesehatan, yakni:
    •    Epidemi
      Epidemi adalah keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit) yang ditemukan pada suatu daerah tertentu dalam waktu yang singkat berada dalam frekuensi yang meningkat.
    • Pandemi
      Pandemi adalah suatu keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit) frekuensinya dalam waktu yang singkat memperlihatkan peningkatan yang sangat tinggi serta penyebarannya telah mencakup suatu wilayah yang sangat luas.
    • Endemi
      Endemi adalah suatu keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit) frekuensinya pada suatu wilayah tertentu menetap dalam waktu yang lama.
    • Sporadik
      Sporadik adalah suatu keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit) yang ada di suatu wilayah tertentu frekuensinya berubah-ubah menurut perubahan waktu.
    5. Pengaplikasian Epidemiologi
    Epidemiologi dapat diaplikasikan dalam kegiatan penelitian epidemiologi misalnya tentang kasus KLB / wabah demam berdarah di suatu wilayah. Langkah-langkah yang harus dilewati, meliputi:
    1. Garis besar pelacakan wabah
      Pengumpulan data dan informasi secara seksama langsung di lapangan atau tempat kejadian wabah demam berdarah. Kemudian data tersebut di analisis secara teliti dan dengan pemikiran yang kritis. 
    2. Analisis situasi awal
      • Penentuan atau penegakan diagnosis
      Untuk dapat mendiagnosis seseorang terkena demam berdarah diperlukan penelitian atau pengamatan klinis dan pemeriksaan laboratorium yang jelas. Hal ini karena gejala demam berdarah dapat salah diagnosa, bahkan pemeriksaan laboratorium terkadang harus dilakukan lebih dari 1 kali.
      • Penentuan adanya wabah
      Untuk menetukan apakah kasus yang sedang diteliti masuk dalam KLB atau tidak, maka perlu diusahakan melakukan perbandingan keadaan jumlah kasus demam berdarah sebelumnya dengan yang sedang diteliti di wilayah yang sama. Untuk melihat apakah terjadi kenaikan jumlah kasus demam berdarah yang signifikan atau tidak.
      • Uraian keadaan wabah
      Jika kasus demam berdarah tersebut dinyatakan KLB / wabah, maka dilakukan uraian keadaan wabah berdasarkan 3 unsur utama, yaitu waktu, tempat dan orang. Kemudian dibuat kurva epidemi yang menggambarkan penyebaran kasus demam berdarah menurut waktu mulai timbulnya gejala demam berdarah di wilayah yang bersangkutan.selain itu, juga menggambarkan penyebaran sifat epidemi berdasarkan penyebaran kasus menurut tempat (spot map epidemi). Dilakukan berbagai perhitungan epidemiologi seperti perhitungan angka kejadian penyakit pada populasi dengan risiko menurut umur, jenis kelamin, pekerjaan, keterpaparan terhadap faktor tertentu serta berbagai sifat orang lainnya yang mungkin berguna dalam analisis.
    3. Analisis lanjutan
    Setelah kasus demam berdarah di wilayah yang sedang diteliti dikategorikan sebagai KLB / wabah, maka perlu dilakukan penelitian lanjut dan analisis yang berkesinambungan selain dilakukan tindak penanggulangan.
    a. Usaha penemuan kasus tambahan
    Perlunya penelusuran terhadap kemungkinan adanya kasus yang tidak dikenal dan kasus yang tidak dilaporkan melalui berbagai cara.
    1) Melakukan pengamatan di rumah sakit dan dokter praktek umumsetempat untuk mencari kemungkinan mereka menemukan kasus penderita demam berdarah dan belum termasuk dalam laporan yang ada.
    2) Melakukan pengamatan yang intensif terhadap mereka yang tanpa gejala atau mereka dengan gejala ringan / tidak spesifik tetapi berpotensi menderita demam berdarah.
    b. Analisis data
    Melakukan analisis data secara berkesinambungan sesuai dengan tambahan informasi yang didapatkan dan melaporkan hasil interpretasi data tersebut.
    c. Melakukan hipotesis
    Berdasarkan hasil analisis data dari seluruh kegiatan yang telah dilakukan,
    kemudian dilakukan penarikan hipotesis tentang keadaan yang diperkirakan. Kesimpulan dari semua fakta yang ditemukan dan diketahui harus sesuai dengan apa yang ada pada hipotesis tersebut.
    d. Tindakan penanggulangan
    Diambil tindakan-tindakan untuk menanggulangi kasus KLB demam berdarah tersebut. Tindakan diambil berdasarkan hasil analisa dan sesuai dengan keadaan KLB yang terjadi. Setiap tindakan penanggulangan KLB harus disertai dengan berbagai kegiatan tindak lanjut sampai keadaan kembali
     normal.
    DAFTAR PUSTAKA

    Budioro, B. 2007. Pengantar Epidemiologi edisi II. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro
    Nasry, Nur. 2006. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta: PT Rineka Cipta
    Azwar, Azrul. 1988. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: PT Binarupa Aksara
    http://arviant.web.ugm.ac.id/content/Epidemiologi%20dasar.pdf
    http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/epidemiologi_kebidanan/bab1-definisi_epidemiologi.pdf
    Ilmu Kedokteran Pencegahan Komunitas Oleh Dr. Budiman Chandra
    http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/epidemiologi_kebidanan/bab3-epidemiologi_deskriptif.pdf
    http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3739/1/fkm-lina%20tarigan.pdf
    http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19934/5/Chapter%20I.pdf
    http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1088-penyakit-yang-baru-muncul-ancaman-masa-mendatang.html