Tugasnya adalah kita mahasiswa angkatan 2009 semester 4 berpasangan membeli kondom pada saat weekend(sabtu) di atas jam 22.00 dan menceritakan pengalamannya di lembaran kertas beserta kondom yang telah dibeli. Dan beginilah ceritaku.
Singkat cerita, 1 bulan setengah setelah pemberian tugas ini akupun mulai bertanya-tanya pada teman-teman sekelas. Dan mungkin juga sekalian mencari “pasangan”. Setelah aku bertanya kesana kemari akupun mulai bosan bertanya dan mulai men”cuek”kan tugas ini. Hingga pada suatu pagi menjelang ujian akhir semester, temanku Ganiysara bertanya padaku, “Om udah ngerjain tugas KWU beli kondom?”. Akupun menjawabnya dengan santai, “belom” sambil menggelengkan kepala dan tertawa. Lalu Ganis berkata “Sama aku aja yok”, akupun menjawabnya, “yo wis to kapan?”. “malem minggu lahh” jawabnya. Singkat cerita kamipun sepakat beli kondom bersama sabtu malam tanggal 15 Mei.
15 Mei, judgement day, hari itu tepatnya sore hari, Ganis sms aku, “Om beli kondomnya gak jadi aja ya, aku mau ke luar kota”. Akupun menjawabnya tenang, “yo wis to, aku tak tuku karo mantanku ae”(ya sudah, aku mau beli bareng mantan pacarku aja), padahal pada saat itu aku mulai berpikir mau ngajak siapa? Udah terlalu mepet waktunya, karena sebelumnya aku udah sms mantan pacarku buat nemenin beli kondom tapi dia gak mau menemani dengan alasan malu. Pikir pikir pikir, tiba-tiba 2 jam setelah Ganis sms tadi, dy mengirimiku sms yang isinya “Om aku gak jadi ke luar kota, ayok beli ntar malem ama aku”. Lega rasanya baca smsnya, kemudian aku jawab “yo wis jam piro tak parani omahmu?”(ya sudah, jam berapa aku jemput kerumahmu?), dijawabnya “jam 9 ya om”.
Jam 9 malam aku datang kerumahnya, kemudian kamipun segera berangkat ke apotik yang telah kita sepakati, apotik K-24 di daerah Jati, Banyumanik. Sesampainya disana, “Nis, apotik’e rame banget ngono, wes koyok indomart wae”(Nis, apotiknya rame sekali, sudah seperti indomart saja) kataku, “yo wis pindah ae Om, ojo nang kene, nang Srondol mau yo ono apotik, apotik 7days”(ya udah pindah aja Om, jangan disini, di Srondol tadi juga ada apotik, apotik 7days) jawabnya. Akupun bergegas memutar haluan motor menuju apotik yang dimaksud. Sesampainya disana, aku parkir motor, tapi kami tidak segera masuk ke dalam apotik walaupun apotik itu kosong karena kami merasa grogi. Kemudian aku beranikan diri masuk ke dalam, dan akupun disambut oleh apoteker yang kebetulan perempuan. Akupun berkata, “mbak, beli kondom donk, ada gak?”. “Lha itu mas ada” sambil jarinya menunjuk etalase yang di dalamnya berjajaran kondom aneka merek aneka “rasa”. Setelah melihat sebentar, “harganya berapa mbak?” tanyaku. “macem-macem mas harganya, tergantung mau merek apa? Tapi klo fiesta itu semua enam ribuan” jawabnya dengan nada bicara yang datar. Kemudian datang ibu-ibu ke apotik itu, apoteker inipun aku minta melayani ibu-ibu yang barusan datang itu dengan harapan apotik itu sepi lagi. Setelah ibu-ibu itu terlayani aku bertanya, “mbak klo kondom cewek ada gak mbak?”, “ada mas, tapi mahal harganya 17 ribu”. Tiba-tiba datang lagi 2 orang pelanggan masuk ke dalam apotik itu, dan sialnya keduanya mengenakan jas almamater Undip. Akupun berpikir, “aduh ngapain ini anak Undip ada disini. Kuputuskan untuk segera membeli kondom fiesta dan segera pergi sebelum anak Undip itu sadar klo aku dan Ganis juga anak Undip yang “nakal”. “Ya udah mbak yang fiesta aja deh mbak satu, segera setelah aku membayarnya, aku dan Ganispun segera keluar dari apotik itu.
Begitulah pengalamanku membeli kondom yang mungkin kurasakan kurang menantang karena reaksi apotekernya biasa-biasa saja seakan pasangan muda-mudi membeli kondom di jaman sekarang sudah menjadi hal yang biasa. Namun pengalaman seperti inilah yang tidak akan terlupakan. Pengalaman mempermalukan diri sendiri. Haha :D

