Rabu, 25 Mei 2011

Tugas KWU Yang "Terlupakan"

Tugasnya adalah kita mahasiswa angkatan 2009 semester 4 berpasangan membeli kondom pada saat weekend(sabtu) di atas jam 22.00 dan menceritakan pengalamannya di lembaran kertas beserta kondom yang telah dibeli. Dan beginilah ceritaku.
            Singkat cerita, 1 bulan setengah setelah pemberian tugas ini akupun mulai bertanya-tanya pada teman-teman sekelas. Dan mungkin juga sekalian mencari “pasangan”.  Setelah aku bertanya kesana kemari akupun mulai bosan bertanya dan mulai men”cuek”kan tugas ini. Hingga pada suatu pagi menjelang ujian akhir semester, temanku Ganiysara bertanya padaku, “Om udah ngerjain tugas KWU beli kondom?”. Akupun menjawabnya dengan santai, “belom” sambil menggelengkan kepala dan tertawa. Lalu Ganis berkata “Sama aku aja yok”, akupun menjawabnya, “yo wis to kapan?”. “malem minggu lahh” jawabnya. Singkat cerita kamipun sepakat beli kondom bersama sabtu malam tanggal 15 Mei.
            15 Mei, judgement day, hari itu tepatnya sore hari, Ganis sms aku, “Om beli kondomnya gak jadi aja ya, aku mau ke luar kota”. Akupun menjawabnya tenang, “yo wis to, aku tak tuku karo mantanku ae”(ya sudah, aku mau beli bareng mantan pacarku aja), padahal pada saat itu aku mulai berpikir mau ngajak siapa? Udah terlalu mepet waktunya, karena sebelumnya aku udah sms mantan pacarku buat nemenin beli kondom tapi dia gak mau menemani dengan alasan malu. Pikir pikir pikir, tiba-tiba 2 jam setelah Ganis sms tadi, dy mengirimiku sms yang isinya “Om aku gak jadi ke luar kota, ayok beli ntar malem ama aku”. Lega rasanya baca smsnya, kemudian aku jawab “yo wis jam piro tak parani omahmu?”(ya sudah, jam berapa aku jemput kerumahmu?), dijawabnya “jam 9 ya om”.
            Jam 9 malam aku datang kerumahnya, kemudian kamipun segera berangkat ke apotik yang telah kita sepakati, apotik K-24 di daerah Jati, Banyumanik. Sesampainya disana, “Nis, apotik’e rame banget ngono, wes koyok indomart wae”(Nis, apotiknya rame sekali, sudah seperti indomart saja) kataku, “yo wis pindah ae Om, ojo nang kene, nang Srondol mau yo ono apotik, apotik 7days”(ya udah pindah aja Om, jangan disini, di Srondol tadi juga ada apotik, apotik 7days) jawabnya. Akupun bergegas memutar haluan motor menuju apotik yang dimaksud. Sesampainya disana, aku parkir motor, tapi kami tidak segera masuk ke dalam apotik walaupun apotik itu kosong karena kami merasa grogi. Kemudian aku beranikan diri masuk ke dalam, dan akupun disambut oleh apoteker yang kebetulan perempuan. Akupun berkata, “mbak, beli kondom donk, ada gak?”. “Lha itu mas ada” sambil jarinya menunjuk etalase yang di dalamnya berjajaran kondom aneka merek aneka “rasa”. Setelah melihat sebentar, “harganya berapa mbak?” tanyaku. “macem-macem mas harganya, tergantung mau merek apa? Tapi klo fiesta itu semua enam ribuan” jawabnya dengan nada bicara yang datar. Kemudian datang ibu-ibu ke apotik itu, apoteker inipun aku minta melayani ibu-ibu yang barusan datang itu dengan harapan apotik itu sepi lagi. Setelah ibu-ibu itu terlayani aku bertanya, “mbak klo kondom cewek ada gak mbak?”, “ada mas, tapi mahal harganya 17 ribu”. Tiba-tiba datang lagi 2 orang pelanggan masuk ke dalam apotik itu, dan sialnya keduanya mengenakan jas almamater Undip. Akupun berpikir, “aduh ngapain ini anak Undip ada disini. Kuputuskan untuk segera membeli kondom fiesta dan segera pergi sebelum anak Undip itu sadar klo aku dan Ganis juga anak Undip yang “nakal”. “Ya udah mbak yang fiesta aja deh mbak satu, segera setelah aku membayarnya, aku dan Ganispun segera keluar dari apotik itu.
            Begitulah pengalamanku membeli kondom yang mungkin kurasakan kurang menantang karena reaksi apotekernya biasa-biasa saja seakan pasangan muda-mudi membeli kondom di jaman sekarang sudah menjadi hal yang biasa. Namun pengalaman seperti inilah yang tidak akan terlupakan. Pengalaman mempermalukan diri sendiri. Haha :D

Senin, 09 Mei 2011

Resume: Determinan Efektivitas Kebijakan

Dalam berjalannya sebuah kebijakan kesehatan terdapat faktor-faktor/determinan yang mempengaruhi efektivitas kebijakan. Determinan efektivitas kebijakan tersebut diantaranya adalah: keadaan di suatu wilayah berbeda satu sama lainnya, jadi kebijakan yang berjalan dengan baik di wilayah tertentu belum tentu kebijakan tersebut akan berjalan dengan baik pula di wilayah yang berbeda. Kemudian sebelum mengesahkan suatu kebijakan kesehatan, perlu kita ketahui terlebih dahulu kebijakan tersebut akan berpengaruh dalam konteks edukasi, teknik, komersial atau hukum, dengan harapan jika kebijakan tersebut telah disahkan, policy maker sudah mengetahui hal-hal apa yang akan menghambat berjalannya kebijakan tersebut. Perlu diperhatikan pula bagaimana kondisi sosial ekonomi setempat, budaya, dan lingkungan politiknya agar policy maker dapat merumuskan suatu strategi-strategi tertentu supaya kebijakan tersebut dapat berjalan dengan baik tanpa ada gangguan dari pihak luar.
Selain itu dalam pengesahan suatu kebijakan kesehatan perlu kita tentukan pula siapa target dari kebijakan tersebut, siapa pelaksananya, siapa pengawasnya dan pula batasan-batasan kerja dari semua pihak yang terkait dengan kebijakan tersebut agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan dengan berjalannya kebijakan tersebut di masyarakat.
Dan yang tidak kalah pentingnya dalam sebuah kebijakan kesehatan terutama kebijakan kesehatan yang dalam pelaksanaannya memerlukan biaya yang tidak sedikit dari pemerintah yaitu adanya transparansi aliran dana masuk dan keluar dari suatu lembaga/dinas kesehatan.

Download softnya disini

Minggu, 08 Mei 2011

Determinan Efektivitas Kebijakan


Ada sebuah pepatah militer kuno yang berbunyi: “Seorang jendral besar bicara tentang strategi, seorang profesional bicara tentang logistik”. Reformasi kebijakan sektor kesehatan banyak yang didorong dengan bukti daripada strategi yang dibentuk oleh ideologi yang sering menunjukkan kemungkinan kecil untuk direalisasikan. Para ideolog mempromosikan strategi mereka yang lebih - atau kurang - melibatkan pasar, retribusi dan devolusi, tetapi, sebagaimana Siddiqi et al. menunjukkan dalam edisi ini Buletin, ketika itu diimplementasikan faktor yang membatasi adalah realitas lokal.
Para ahli strategi di seluruh dunia terlalu sering berasumsi bahwa kondisi di semua negara adalah homogen: bahwa pendekatan yang bekerja di suatu negara dapat bekerja di negara lain, meskipun berbeda hukum dan sistem administrasi, tradisi dan nilai-nilai, lingkungan fisik dan keamanannya. Siddiqi et al. mengingatkan kita bahwa kesehatan dan subsistem perusahaan tidak akan bekerja di dalam sebuah isolasi. Mereka melihat keterbatasan praktis dari penerapan strategi dan menyimpulkan: “pertimbangan cermat dan analisis mendalam tentang konteks lokal sangat penting sebelum memutuskan mendukung sumber daya atau pemberian langsung” (pelayanan). Semua pihak perlu mengatur kesepakatan dan kapasitasnya untuk pengoperasian mereka –kita bisa saja menambahkan, tanpa interfensi pihak luar. Mereka juga mencatat pentingnya monitoring kesepakatan, dan kesepakatan itu tergantung pada ketersediaan manajemen dalam pengumpulan data (termasuk dari sektor nonpemerintah). Pemegang kekuasaan juga membutuhkan sebuath sistem yang memperbolehkan mereka untuk mengambil tindakan jika ada kasus tidak bekerja atau tidak patuh, sekali lagi tanpa interfensi pihak luar. Kesepakatan tergantung pada kesediaan pemerintah dan kemampuannya membayar kontraktor tepat waktu.
Model “determinan kesehatan” The Dahlgren & Whitehead telah menjadi aksioma dalam wacana kebijakan kehatan masyarakat. Demikian pula, sekarang saatnya kita mengakui bahwa kebijakan sektor kesehatan yang berpusat pada sistem yang lebih luas sangat menentukan efektivitasnya (lihat gambar 1). Apa yang kita sebut model “determinan efektivitas kebijakan” (seperti yang berlaku untuk lebih dari sekedar kebijakan kesehatan) mengingatkan kita bahwa ada faktor pembatas untuk mencapai efektivitas dari stategi utama pengubah kebijakan. Kita harus mempertimbangkan banyak hal: realitas sistem administrasi publik dan aturan yang harus dioperasikan oleh suatu kebijakan kesehatan, pelatihan lokal dan sistem edukasi dan bagaimana mempersiapkan profesionalisme mereka, dan nilai-nilai budaya dan ekonomi setempat. Apakah informasi, misalnya, diperlakukan dengan hormat dan dikumpulkan dan dicatat secara akurat dan tepat waktu? Apakah semua pria dan wanita diperlakukan sama dengan hormat dan bermartabat? Seberapa sering politisi menginterfensi kontrak dan janji pekerja? Kita juga harus mempertimbangkan sektor komersial dan sistem hukum dan apakah praktek-praktek mereka sejalan dengan reformasi yang diusulkan, tingkat kekayaan dan sistem pemerintahan yang memfasilitasi atau membatasi ruang lingkup untuk korupsi, dan sikap mereka terhadap koruptor yang tertangkap. Seorang birokrat senior India telah menulis secara terbuka tentang korupsi di India, dan pentingnya korupsi di sektor kesehatan di seluruh dunia telah cukup dijelaskan oleh laporan tahun ini dari Transparansi Internasional.
Tak ada satupun solusi yang diusulkan –pemerintah lebih menyediakan pelayanan kesehatan, keterlibatan pasar, keterlibatan organisasi nonpemerintah, subsidiaritas, perawatan primer terpadu, pendekatan “jalan ketiga”, dll - akan bekerja efektif sampai kita mengetahui adanya dampak dari konteks dan lingkungan di mana mereka diharapkan untuk berhasil. Pengembangan kapasitas sistemik menarik perhatian kita kepada kebutuhan untuk analisis yang rinci tentang kekurangan kapasitas dalam sektor kesehatan. Para penentu model efektivitas kebijakan mengingatkan kita perlu untuk melihat keluar juga. Bahkan mungkin untuk reformasi pelayanan kesehatan agar menjadi sukses kita perlu memberikan perhatian lebih terhadap pembangunan ke atas dan mencari langkah yang lebih besar dalam perubahan sistem politik, hukum, komersial, pendidikan dan administratif yang sukses mengandalkan kebijakan kesehatan.
 Gambar 1

Sumbernya dari sini 
Link download postingan ini ada di sini

Minggu, 20 Maret 2011

Air Borne Disease: Tubercolosis


  1. PENGERTIAN
    Tuberkulosis adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru.(Brunner & Suddarth, 2001)
    Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan Mycobacterium tuberkulosis yang hampir seluruh organ tubuh dapat terserang olehnya, tapi yang paling banyak adalah paru-paru.(IPD, FK, UI)
    Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberkulosis dan Mycobacterium bovis.(Ngastiyah, 2005)
    Tuberkulosis pulmoner adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru, dengan agen infeksius utama Mycobacterium tuberculosis.(Smeltzer & Bare, 2001)
    Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. (Price & Wilson, 1994)
    Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberkulosis yang penularannya melalui percikan ludah dari penderita tuberkulosis yang membuang dahak di sembarang tempat. Sehingga penularannya mudah terjadi pada orang lain, tetapi tidak semua orang mudah terkena tuberkulosis tergantung daya tahan tubuh yang sudah baik tidak akan mudah terkena.

  2. EPIDEMIOLOGI
    Dalam penularan infeksi Mycobacterium tuberculosis hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
    Reservour, sumber dan penularan: Manusia adalah reservoar paling umum, sekret saluran pernafasan dari orang dengan lesi aktif terbuka memindahkan infeksi langsung melalui droplet.
    Masa inkubasi: Yaitu sejak masuknya sampai timbulnya lesi primer umumnya memerlukan waktu empat sampai enam minggu, interfal antara infeksi primer dengan reinfeksi bisa beberapa tahun.
    Masa dapat menular: Selama yang bersangkutan mengeluarkan bacil Turbekel terutama yang dibatukkan atau dibersinkan.
    Immunitas: Anak dibawah tiga tahun paling rentan, karena sejak lahir sampai satu bulan bayi diberi vaksinasi BCG yang meningkatkan tubuh terhadap TBC.

  3. MEKANISME PENULARAN
  4. ETIOLOGY/PENYEBAB PENYAKIT
    TB paru disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang merupakan batang aerobic tahan asam yang tumbuh lambat dan sensitive terhadap panas dan sinar UV. Bakteri yang jarang sebagai penyebab, tetapi pernah terjadi adalah M. Bovis dan M. Avium.

  5. CARA PENANGGULANGAN
      
    a. Promotif
    • Penyuluhan kepada masyarakat apa itu TBC
    • Pemberitahuan baik melalui spanduk/iklan tentang bahaya TBC, cara penularan, cara pencegahan, faktor resiko.
    • Mensosialisasikan BCG di masyarakat.

b. Preventif
  • Vaksinasi BCG
  • Menggunakan isoniazid (INH)
  • Membersihkan lingkungan dari tempat kotor dan lembab.
  • Bila ada gejala-gejala TBC segera ke Puskesmas/RS, agar dapat diketahui secara dini
c. Kuratif
Pengobatan tuberkulosis terutama pada pemberian obat antimikroba dalam jangka waktu yang lama. Obat-obat dapat juga digunakan untuk mencegah timbulnya penyakit klinis pada seseorang yang sudah terjangkit infeksi. Penderita tuberkulosis dengan gejala knlinis harus mendapat minuman dua obat untuk mencegah timbulnya strain yang resisten terhadap obat. Kombinasi obat-obat pilihan adalah isoniazid (hidrazid asam isonikkotinat = INH) dengan etambutol (EMB) atau rifamsipin (RIF).
Dosis lazim INH untuk orang dewasa biasanya 5-10 mg/kg atau sekitar 300mg/hari, EMB, 25 mg/kg selama 60hari, kemudian 15 mg. Kg, RIF 600 mg sekali sehari. Efek samping etambutol adalah Neuritis retrobulbar disertai penurunan ketajaman penglihatan. Uji ketajaman penglihatan dianjurkan setiap bulan agar keadaan tersebut dapat diketahui. Efek samping INH yang berat jarang terjadi. Komplikasi yang paling berat adalah hepatitis. Resiko hepatitis sangat rendah pada penderita dibawah usia 20 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 60 tahun keatas. Disfungsi hati, seperti terbukti dengan peningkatan aktivitas serum aminotransferase, ditemukan pada 10-20% yang mendapat INH. Waktu minimal terapi kombinasi 18 bulan sesudah konversi biakan sputum menjadi negatif. Sesudah itu masuk harus dianjurkan terapi dengan INH saja selama satu tahun.
Baru-baru ini CDC dan American Thoracis Societty (ATS) mengeluarkan pernyataan mengenai rekomendasi kemoterapi jangka pendek bagi penderita tuberkulosis dengan riwayat tuberkulosis paru pengobatan 6 atau 9 bulan berkaitan dengan resimen yang terdiri dari INH dan RIF (tanpa atau dengan obat-obat lainnya), dan hanya diberikan pada pasien tuberkulosis paru tanpa komplikasi, misalnya : pasien tanpa penyakit lain seperti diabetes, silikosis atau kanker didiagnosis TBC setelah batuk darah, padahal mengalami batu dan mengeluarkan keringat malam sekitar 3 minggu.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.scribd.com/doc/20358065/TUBERKULOSIS-PARU

http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=1210


Nurcahyo Adinugroho
E2A009052

    Food and Water Borne Disease: KOLERA


    1. PENGERTIAN
      Kolera adalah infeksi usus akut yang disebabkan oleh konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi dengan bakteri Vibrio cholerae. Memiliki masa inkubasi singkat dan menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan, berlimpah tanpa rasa sakit, diare berair yang cepat dapat menyebabkan dehidrasi parah dan kematian jika pengobatan tidak segera diberikan. Muntah juga terjadi pada kebanyakan pasien.
      Kebanyakan orang yang terinfeksi dengan V. cholerae tidak menjadi sakit, meskipun bakteri ini hadir dalam kotoran mereka selama 7-14 hari. Ketika penyakit itu terjadi, sekitar 80-90% dari episode keparahan ringan atau sedang dan sulit untuk membedakan secara klinis dari jenis lain diare akut. Kurang dari 20% dari orang yang sakit mengembangkan kolera khas dengan tanda-tanda dehidrasi sedang atau berat.
      Kolera tetap menjadi ancaman global dan merupakan salah satu indikator kunci pembangunan sosial. Sedangkan penyakit tidak lagi menimbulkan ancaman bagi negara-negara dengan standar minimum kebersihan, itu tetap merupakan tantangan bagi negara-negara di mana akses terhadap air minum yang aman dan sanitasi yang memadai tidak dapat dijamin. Hampir setiap negara berkembang menghadapi wabah kolera atau ancaman epidemi kolera.
    2. EPIDEMIOLOGI
      Semua orang diyakini rentan terhadap infeksi, tetapi individu dengan kekebalan rusak atau belum berkembang, keasaman lambung kurang, atau kekurangan gizi dapat menderita bentuk yang lebih parah dari penyakit.
      Bakteri ini bertanggung jawab untuk Asia atau epidemi cholera. Tidak ada wabah besar yang telah terjadi di Amerika Serikat sejak tahun 1911. Namun, kasus sporadis terjadi antara 1973 dan 1991, menyarankan reintroduksi kemungkinan organisme masuk ke dalam lingkungan kelautan dan muara sungai Amerika Serikat. Kasus-kasus antara tahun 1973 dan 1991 dikaitkan dengan konsumsi kerang yang mentah atau kerang yang salah cara pemasakannya atau re-terkontaminasi setelah memasak yang tepat. Studi lingkungan telah menunjukkan bahwa strain organisme ini dapat ditemukan di muara sungai beriklim sedang dan kawasan pesisir laut sekitar Amerika Serikat.
      Pada tahun 1991 penyakit kolera dilaporkan untuk kali pertama dalam abad ini di Amerika Selatan, mulai di Peru. Wabah cepat tumbuh proporsi epidemi dan menyebar ke Amerika Selatan dan Amerika Tengah lainnya negara, dan ke Meksiko. 1.099.882 kasus dan 10.453 kematian dilaporkan di Belahan Barat antara Januari 1991 dan Juli 1995.
      Meskipun Amerika Selatan strain V. cholerae O1 telah diisolasi dari perairan Teluk Pantai, mungkin ditularkan oleh kapal off-loading air pemberat yang terkontaminasi, tidak ada kasus penyakit kolera telah dihubungkan dengan ikan atau kerang yang dipanen dari perairan AS. Namun, lebih dari 100 kasus penyakit kolera disebabkan oleh jenis Amerika Selatan telah dilaporkan di Amerika Serikat. Kasus-kasus ini adalah wisatawan yang kembali dari Amerika Selatan, atau berhubungan dengan ilegal diselundupkan, krustasea suhu-disalahgunakan dari Amerika Selatan.
      Pada musim gugur tahun 1993, sebuah strain baru, non-O1 belum pernah diidentifikasi, telah terlibat dalam wabah penyakit kolera di Bangladesh dan India. Organisme, V. cholerae O139 serogrup (Bengal), menyebabkan gejala karakteristik penyakit kolera parah. Penyakit sebelumnya dengan V. cholerae O1 tidak memberi kekebalan dan penyakit sekarang endemik. Di Amerika Serikat, V. cholerae O139 telah terlibat dalam satu kasus, seorang pengelana kembali dari India. Strain belum dilaporkan di perairan atau kerang Amerika Serikat.
    3. FREKUENSI
      Lebih dari 200 kasus yang telah terbukti penyakit kolera telah dilaporkan di AS sejak tahun 1973, dengan 90% terjadi dalam 5 tahun terakhir. Sebagian besar kasus yang terdeteksi hanya setelah investigasi epidemiologi. Mungkin lebih banyak kasus sporadis telah terjadi, namun sudah tidak terdiagnosis atau dilaporkan.
    4. MEKANISME PENULARAN
      Kebanyakan bakteri, bila dikonsumsi, tidak bertahan hidup dengan kondisi asam dari lambung manusia. Beberapa bakteri yang bertahan menghemat energi dan nutrisi disimpan selama perjalanan melalui perut dengan menutup produksi protein banyak. Ketika bakteri yang masih hidup keluar lambung dan mencapai usus kecil, mereka harus mendorong diri mereka sendiri melalui lendir tebal yang melapisi usus kecil untuk sampai ke dinding usus, di mana mereka dapat berkembang. Bakteri V. cholerae memulai produksi protein flagellin silinder berongga untuk membuat flagela, serat heliks gabus-sekrup mereka berputar untuk mendorong diri mereka sendiri melalui lendir dari usus kecil.
      Setelah bakteri kolera mencapai dinding usus, mereka tidak perlu lagi baling-baling flagela untuk bergerak. Bakteri berhenti memproduksi flagellin protein, sehingga lagi menghemat energi dan nutrisi dengan mengubah campuran protein yang mereka memproduksi dalam menanggapi lingkungan kimia berubah. Saat mencapai dinding usus, V. cholerae mulai memproduksi protein beracun yang memberikan orang yang terinfeksi diare berair. Ini membawa generasi baru mengalikan bakteri V. cholerae keluar ke dalam air minum tuan rumah jika langkah-langkah sanitasi yang tepat tidak pada tempatnya.
      Toksin kolera (kotri atau CT) adalah sebuah kompleks oligomer terdiri dari enam subunit protein: satu salinan dari subunit A (bagian A), dan lima salinan dari subunit B (bagian B), dihubungkan oleh ikatan disulfida. Kelima B subunit membentuk lima cincin beranggota yang mengikat untuk GM1 gangliosides pada permukaan sel epitel usus. Bagian A1 dari subunit adalah sebuah enzim yang ADP-ribosylates protein G, sedangkan rantai A2 cocok ke dalam pori-pori pusat dari cincin subunit B. Setelah mengikat, kompleks ini diambil ke dalam sel melalui endositosis reseptor-mediated. Setelah masuk sel, ikatan disulfida berkurang, dan subunit A1 dibebaskan untuk mengikat dengan protein pasangan manusia yang disebut ADP-ribosylation faktor 6 (Arf6). Binding memperlihatkan situs aktif, yang memungkinkan untuk secara permanen ribosylate yang Gs alpha subunit dari protein G heterotrimeric. Hal ini menyebabkan produksi cAMP konstitutif, yang pada gilirannya menyebabkan sekresi H2O, Na +, K +, Cl-, dan HCO3-ke dalam lumen usus dan dehidrasi cepat kecil. Pengkodean gen toksin kolera diperkenalkan ke V. cholerae oleh transfer gen horizontal. virulen strain V. cholerae membawa varian dari lisogenik bakteriofag disebut CTXf atau CTXφ.
      Mikrobiologi telah mempelajari mekanisme genetik di mana bakteri V. cholerae mematikan produksi beberapa protein dan menghidupkan produksi protein lain sebagai respon mereka terhadap serangkaian lingkungan kimia mereka hadapi, melewati perut, melalui lapisan lendir usus kecil, dan pada dinding usus. Yang menarik miliki. menjadi mekanisme genetik dengan bakteri kolera yang menghidupkan produksi protein racun yang berinteraksi dengan mekanisme sel inang untuk memompa ion klorida ke dalam usus kecil, menciptakan tekanan ionik yang mencegah ion natrium memasuki sel. Ion klorida dan natrium menciptakan lingkungan garam-air di usus kecil, yang melalui osmosis dapat menarik sampai enam liter air per hari melalui sel-sel usus, menciptakan sejumlah besar diare. Tuan rumah bisa menjadi cepat dehidrasi jika campuran yang tepat encer air garam dan gula tidak diambil untuk menggantikan air dan garam darah hilang dalam diare.
      Dengan menyisipkan terpisah, bagian yang berurutan DNA V. cholerae ke dalam DNA bakteri lainnya, seperti E. coli yang tidak akan secara alami menghasilkan racun protein, para peneliti telah menyelidiki mekanisme yang V. cholerae merespon perubahan lingkungan kimia dari perut, lapisan lendir, dan dinding usus. Para peneliti telah menemukan ada riam kompleks protein regulator yang mengontrol ekspresi determinan virulensi V. cholerae. Dalam menanggapi lingkungan kimia di dinding usus, bakteri V. cholerae menghasilkan TcpP / protein TcpH, yang bersama-sama dengan / ToxR ToxS protein, mengaktifkan ekspresi dari protein ToxT regulasi. ToxT kemudian langsung mengaktifkan ekspresi gen virulensi yang menghasilkan racun, menyebabkan diare pada orang yang terinfeksi dan memungkinkan bakteri untuk menjajah usus. Penelitian kini bertujuan untuk menemukan "sinyal yang membuat bakteri kolera berhenti berenang dan mulai menjajah (yaitu, mematuhi sel-sel) usus kecil."
    5. ETIOLOGY/PENYEBAB PENYAKIT
      Ada dua jenis V. cholerae yang berpotensi sebagai patogen pada manusia. Jenis utama yang menyebabkan kolera adalah V. cholerae O1, sedangkan jenis-jenis lainnya dikenal sebagai non-O1.
      V. cholerae
      O1 adaalah penyebab kolera Asiatik atau kolera epidemik. Kasus kolera sangat jarang terjadi di Eropa dan Amerika Utara. Sebagian besar kasus kolera terjadi di daerah-daerah (sub)-tropis. Kolera selalu disebabkan oleh air yang tercemar atau ikan (atau kerang) yang berasal dari perairan yang tercemar.
      V. cholerae
      non-O1 hanya menginfeksi manusia dan hewan primata lainnya. Organisme ini berkerabat dengan V. cholerae O1, tetapi penyakit yang ditimbulkannya tidak separah kolera. Strain patogenik dan non-patogenik dari organisme ini merupakan penghuni normal di lingkungan air laut dan muara. Organisme ini pada masa lalu disebut sebagai non-cholera vibrio (NCV) dan nonagglutinable vibrio (NAG).
    1. CARA PENANGGULANGAN
      Penderita yang mengalami penyakit kolera harus segera mandapatkan penaganan segera, yaitu dengan memberikan pengganti cairan tubuh yang hilang sebagai langkah awal. Pemberian cairan dengan cara Infus/Drip adalah yang paling tepat bagi penderita yang banyak kehilangan cairan baik melalui diare atau muntah. Selanjutnya adalah pengobatan terhadap infeksi yang terjadi, yaitu dengan pemberian antibiotik/antimikrobial seperti Tetrasiklin, Doxycycline atau golongan Vibramicyn. Pengobatan antibiotik ini dalam waktu 48 jam dapat menghentikan diare yang terjadi.
      Pada kondisi tertentu, terutama diwilayah yang terserang wabah penyakit kolera pemberian makanan/cairan dilakukan dengan jalan memasukkan selang dari hidung ke lambung (sonde). Sebanyak 50% kasus kolera yang tergolang berat tidak dapat diatasi (meninggal dunia), sedangkan sejumlah 1% penderita kolera yang mendapat penanganan kurang adekuat meninggal dunia.
      Cara pencegahan dan memutuskan tali penularan penyakit kolera adalah dengan prinsip sanitasi lingkungan, terutama kebersihan air dan pembuangan kotoran (feaces) pada tempatnya yang memenuhi standar lingkungan. Lainnya ialah meminum air yang sudah dimasak terlebih dahulu, cuci tangan dengan bersih sebelum makan memakai sabun/antiseptik, cuci sayuran dangan air bersih terutama sayuran yang dimakan mentah (lalapan), hindari memakan ikan dan kerang yang dimasak setengah matang.
      Bila dalam anggota keluarga ada yang terkena kolera, sebaiknya diisolasi dan secepatnya mendapatkan pengobatan. Benda yang tercemar muntahan atau tinja penderita harus di sterilisasi, searangga lalat (vektor) penular lainnya segera diberantas. Pemberian vaksinasi kolera dapat melindungi orang yang kontak langsung dengan penderita.
    2. Daftar Pustaka 
    Nurcahyo Adinugroho
    E2A009052