Rabu, 25 Mei 2011

Tugas KWU Yang "Terlupakan"

Tugasnya adalah kita mahasiswa angkatan 2009 semester 4 berpasangan membeli kondom pada saat weekend(sabtu) di atas jam 22.00 dan menceritakan pengalamannya di lembaran kertas beserta kondom yang telah dibeli. Dan beginilah ceritaku.
            Singkat cerita, 1 bulan setengah setelah pemberian tugas ini akupun mulai bertanya-tanya pada teman-teman sekelas. Dan mungkin juga sekalian mencari “pasangan”.  Setelah aku bertanya kesana kemari akupun mulai bosan bertanya dan mulai men”cuek”kan tugas ini. Hingga pada suatu pagi menjelang ujian akhir semester, temanku Ganiysara bertanya padaku, “Om udah ngerjain tugas KWU beli kondom?”. Akupun menjawabnya dengan santai, “belom” sambil menggelengkan kepala dan tertawa. Lalu Ganis berkata “Sama aku aja yok”, akupun menjawabnya, “yo wis to kapan?”. “malem minggu lahh” jawabnya. Singkat cerita kamipun sepakat beli kondom bersama sabtu malam tanggal 15 Mei.
            15 Mei, judgement day, hari itu tepatnya sore hari, Ganis sms aku, “Om beli kondomnya gak jadi aja ya, aku mau ke luar kota”. Akupun menjawabnya tenang, “yo wis to, aku tak tuku karo mantanku ae”(ya sudah, aku mau beli bareng mantan pacarku aja), padahal pada saat itu aku mulai berpikir mau ngajak siapa? Udah terlalu mepet waktunya, karena sebelumnya aku udah sms mantan pacarku buat nemenin beli kondom tapi dia gak mau menemani dengan alasan malu. Pikir pikir pikir, tiba-tiba 2 jam setelah Ganis sms tadi, dy mengirimiku sms yang isinya “Om aku gak jadi ke luar kota, ayok beli ntar malem ama aku”. Lega rasanya baca smsnya, kemudian aku jawab “yo wis jam piro tak parani omahmu?”(ya sudah, jam berapa aku jemput kerumahmu?), dijawabnya “jam 9 ya om”.
            Jam 9 malam aku datang kerumahnya, kemudian kamipun segera berangkat ke apotik yang telah kita sepakati, apotik K-24 di daerah Jati, Banyumanik. Sesampainya disana, “Nis, apotik’e rame banget ngono, wes koyok indomart wae”(Nis, apotiknya rame sekali, sudah seperti indomart saja) kataku, “yo wis pindah ae Om, ojo nang kene, nang Srondol mau yo ono apotik, apotik 7days”(ya udah pindah aja Om, jangan disini, di Srondol tadi juga ada apotik, apotik 7days) jawabnya. Akupun bergegas memutar haluan motor menuju apotik yang dimaksud. Sesampainya disana, aku parkir motor, tapi kami tidak segera masuk ke dalam apotik walaupun apotik itu kosong karena kami merasa grogi. Kemudian aku beranikan diri masuk ke dalam, dan akupun disambut oleh apoteker yang kebetulan perempuan. Akupun berkata, “mbak, beli kondom donk, ada gak?”. “Lha itu mas ada” sambil jarinya menunjuk etalase yang di dalamnya berjajaran kondom aneka merek aneka “rasa”. Setelah melihat sebentar, “harganya berapa mbak?” tanyaku. “macem-macem mas harganya, tergantung mau merek apa? Tapi klo fiesta itu semua enam ribuan” jawabnya dengan nada bicara yang datar. Kemudian datang ibu-ibu ke apotik itu, apoteker inipun aku minta melayani ibu-ibu yang barusan datang itu dengan harapan apotik itu sepi lagi. Setelah ibu-ibu itu terlayani aku bertanya, “mbak klo kondom cewek ada gak mbak?”, “ada mas, tapi mahal harganya 17 ribu”. Tiba-tiba datang lagi 2 orang pelanggan masuk ke dalam apotik itu, dan sialnya keduanya mengenakan jas almamater Undip. Akupun berpikir, “aduh ngapain ini anak Undip ada disini. Kuputuskan untuk segera membeli kondom fiesta dan segera pergi sebelum anak Undip itu sadar klo aku dan Ganis juga anak Undip yang “nakal”. “Ya udah mbak yang fiesta aja deh mbak satu, segera setelah aku membayarnya, aku dan Ganispun segera keluar dari apotik itu.
            Begitulah pengalamanku membeli kondom yang mungkin kurasakan kurang menantang karena reaksi apotekernya biasa-biasa saja seakan pasangan muda-mudi membeli kondom di jaman sekarang sudah menjadi hal yang biasa. Namun pengalaman seperti inilah yang tidak akan terlupakan. Pengalaman mempermalukan diri sendiri. Haha :D

Senin, 09 Mei 2011

Resume: Determinan Efektivitas Kebijakan

Dalam berjalannya sebuah kebijakan kesehatan terdapat faktor-faktor/determinan yang mempengaruhi efektivitas kebijakan. Determinan efektivitas kebijakan tersebut diantaranya adalah: keadaan di suatu wilayah berbeda satu sama lainnya, jadi kebijakan yang berjalan dengan baik di wilayah tertentu belum tentu kebijakan tersebut akan berjalan dengan baik pula di wilayah yang berbeda. Kemudian sebelum mengesahkan suatu kebijakan kesehatan, perlu kita ketahui terlebih dahulu kebijakan tersebut akan berpengaruh dalam konteks edukasi, teknik, komersial atau hukum, dengan harapan jika kebijakan tersebut telah disahkan, policy maker sudah mengetahui hal-hal apa yang akan menghambat berjalannya kebijakan tersebut. Perlu diperhatikan pula bagaimana kondisi sosial ekonomi setempat, budaya, dan lingkungan politiknya agar policy maker dapat merumuskan suatu strategi-strategi tertentu supaya kebijakan tersebut dapat berjalan dengan baik tanpa ada gangguan dari pihak luar.
Selain itu dalam pengesahan suatu kebijakan kesehatan perlu kita tentukan pula siapa target dari kebijakan tersebut, siapa pelaksananya, siapa pengawasnya dan pula batasan-batasan kerja dari semua pihak yang terkait dengan kebijakan tersebut agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan dengan berjalannya kebijakan tersebut di masyarakat.
Dan yang tidak kalah pentingnya dalam sebuah kebijakan kesehatan terutama kebijakan kesehatan yang dalam pelaksanaannya memerlukan biaya yang tidak sedikit dari pemerintah yaitu adanya transparansi aliran dana masuk dan keluar dari suatu lembaga/dinas kesehatan.

Download softnya disini

Minggu, 08 Mei 2011

Determinan Efektivitas Kebijakan


Ada sebuah pepatah militer kuno yang berbunyi: “Seorang jendral besar bicara tentang strategi, seorang profesional bicara tentang logistik”. Reformasi kebijakan sektor kesehatan banyak yang didorong dengan bukti daripada strategi yang dibentuk oleh ideologi yang sering menunjukkan kemungkinan kecil untuk direalisasikan. Para ideolog mempromosikan strategi mereka yang lebih - atau kurang - melibatkan pasar, retribusi dan devolusi, tetapi, sebagaimana Siddiqi et al. menunjukkan dalam edisi ini Buletin, ketika itu diimplementasikan faktor yang membatasi adalah realitas lokal.
Para ahli strategi di seluruh dunia terlalu sering berasumsi bahwa kondisi di semua negara adalah homogen: bahwa pendekatan yang bekerja di suatu negara dapat bekerja di negara lain, meskipun berbeda hukum dan sistem administrasi, tradisi dan nilai-nilai, lingkungan fisik dan keamanannya. Siddiqi et al. mengingatkan kita bahwa kesehatan dan subsistem perusahaan tidak akan bekerja di dalam sebuah isolasi. Mereka melihat keterbatasan praktis dari penerapan strategi dan menyimpulkan: “pertimbangan cermat dan analisis mendalam tentang konteks lokal sangat penting sebelum memutuskan mendukung sumber daya atau pemberian langsung” (pelayanan). Semua pihak perlu mengatur kesepakatan dan kapasitasnya untuk pengoperasian mereka –kita bisa saja menambahkan, tanpa interfensi pihak luar. Mereka juga mencatat pentingnya monitoring kesepakatan, dan kesepakatan itu tergantung pada ketersediaan manajemen dalam pengumpulan data (termasuk dari sektor nonpemerintah). Pemegang kekuasaan juga membutuhkan sebuath sistem yang memperbolehkan mereka untuk mengambil tindakan jika ada kasus tidak bekerja atau tidak patuh, sekali lagi tanpa interfensi pihak luar. Kesepakatan tergantung pada kesediaan pemerintah dan kemampuannya membayar kontraktor tepat waktu.
Model “determinan kesehatan” The Dahlgren & Whitehead telah menjadi aksioma dalam wacana kebijakan kehatan masyarakat. Demikian pula, sekarang saatnya kita mengakui bahwa kebijakan sektor kesehatan yang berpusat pada sistem yang lebih luas sangat menentukan efektivitasnya (lihat gambar 1). Apa yang kita sebut model “determinan efektivitas kebijakan” (seperti yang berlaku untuk lebih dari sekedar kebijakan kesehatan) mengingatkan kita bahwa ada faktor pembatas untuk mencapai efektivitas dari stategi utama pengubah kebijakan. Kita harus mempertimbangkan banyak hal: realitas sistem administrasi publik dan aturan yang harus dioperasikan oleh suatu kebijakan kesehatan, pelatihan lokal dan sistem edukasi dan bagaimana mempersiapkan profesionalisme mereka, dan nilai-nilai budaya dan ekonomi setempat. Apakah informasi, misalnya, diperlakukan dengan hormat dan dikumpulkan dan dicatat secara akurat dan tepat waktu? Apakah semua pria dan wanita diperlakukan sama dengan hormat dan bermartabat? Seberapa sering politisi menginterfensi kontrak dan janji pekerja? Kita juga harus mempertimbangkan sektor komersial dan sistem hukum dan apakah praktek-praktek mereka sejalan dengan reformasi yang diusulkan, tingkat kekayaan dan sistem pemerintahan yang memfasilitasi atau membatasi ruang lingkup untuk korupsi, dan sikap mereka terhadap koruptor yang tertangkap. Seorang birokrat senior India telah menulis secara terbuka tentang korupsi di India, dan pentingnya korupsi di sektor kesehatan di seluruh dunia telah cukup dijelaskan oleh laporan tahun ini dari Transparansi Internasional.
Tak ada satupun solusi yang diusulkan –pemerintah lebih menyediakan pelayanan kesehatan, keterlibatan pasar, keterlibatan organisasi nonpemerintah, subsidiaritas, perawatan primer terpadu, pendekatan “jalan ketiga”, dll - akan bekerja efektif sampai kita mengetahui adanya dampak dari konteks dan lingkungan di mana mereka diharapkan untuk berhasil. Pengembangan kapasitas sistemik menarik perhatian kita kepada kebutuhan untuk analisis yang rinci tentang kekurangan kapasitas dalam sektor kesehatan. Para penentu model efektivitas kebijakan mengingatkan kita perlu untuk melihat keluar juga. Bahkan mungkin untuk reformasi pelayanan kesehatan agar menjadi sukses kita perlu memberikan perhatian lebih terhadap pembangunan ke atas dan mencari langkah yang lebih besar dalam perubahan sistem politik, hukum, komersial, pendidikan dan administratif yang sukses mengandalkan kebijakan kesehatan.
 Gambar 1

Sumbernya dari sini 
Link download postingan ini ada di sini