Kamis, 16 Desember 2010

Kejadian Luar Biasa

KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)
Kejadian luar biasa (KLB) masih sering terjadi di Indonesia. KLB ini mempunyai makna social dan politik tersendiri oleh karena peristiwanya yang demikian mendadak, mengenai banyak orang dan dapat menimbulkan banyak kematian.
Penyakit menular yang potensial menimbulkan wabah di Indonesia dicantumkan Permenkes 560/MENKES/PER/VIII/1989 tentang Penyakit potensial wabah :
  1. Kholera
  2. Pertusis
  3. Pes
  4. Rabies
  5. Demam Kuning
  6. Malaria
  7. Demam Bolak-balik
  8. Influenza
  9. Tifus Bercak wabah
  10. Hepatitis
  11. DBD
  12. Tifus perut
  13. Campak
  14. Meningitis
  15. Polio
  16. Ensefalitis
  17. Difteri
  18. Antraks
Pengertian kejadian luar biasa (KLB) adalh timbulnya atau meningkatnya kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis dalam kurun waktu dan daerah tertentu.
Batasan KLB meliputi arti yang luas, yang dapat diuraikan sebagai berikut :
  • Meliputi semua kejadian penyakit, dapat suatu penyakit infeksi akut kronis ataupun penyakit non infeksi.
  • Tidak ada batasan yang dapat dipakai secara umum untuk menentukan jumlah penderita yang dapat dikatakan sebagai KLB. Hal ini selain karena jumlah kasus sangat tergantung dari jenis dan agen penyebabnya, juga karena keadaan penyakit akan bervariasi menurut tempat (tempat tinggal, pekerjaan) dan waktu (yang berhubungan dengan keadaan iklim) dan pengalaman keadaan penyakit tersebut sebelumnya.
  • Tidak ada batasan yang spesifik mengenai luas daerah yang dapat dipakai untuk menentukan KLB, apakah dusun desa, kecamatan, kabupaten atau meluas satu propinsi dan Negara. Luasnya daerah sangat tergantung dari cara penularan penyakit tersebut.
  • Waktu yang digunakan untuk menentukan KLB juga bervariasi. KLB dapat terjadi dalam beberapa jam, beberapa hari atau minggu atau beberapa bulan maupun tahun.
A. Kriteria Kerja Kejadian Luar Biasa (KLB)
KLB meliputi hal yang sangat luas seperti sampaikan pada bagian sebelumnya, maka untuk mempermudah penetapan diagnosis KLB, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Dirjen PPM&PLP No. 451-I/PD.03.04/1999 tentang Pedoman Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan KLB telah menetapkan criteria kerja KLB yaitu :
  1. Timbulnya suatu penyakit/menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal
  2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya.
  3. Peningkatan kejadian/kematian > 2 kali dibandingkan dengan periode sebelumnya
  4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan >2 kali bila dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan tahun sebelumnya
  5. Angka rata-rata perbulan selama satu tahun menunjukkan kenaikkan > 2 kali dibandingkan angka rata-rata per bulan tahun sebelumnya.
  6. CFR suatu penyakit dalam satu kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikkan 50 % atau lebih dibanding CFR periode sebelumnya.
  7. Proporsional Rate penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikkan > 2 kali dibandingkan periode yang sama dan kurun waktu/tahun sebelumnya.
Beberapa penyakit khusus : Kholera, DHF/DSS
Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis)
Terdapat satu/lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit tersebut
Beberapa penyakit yang dialami 1 atau lebih penderita :
a. Keracunan makanan
b. Keracunan pestisida
B. Kekebalan Kelompok (Herd Immunity)
Adalah tingkat kemampuan atau daya tahan suatu kelompok penduduk tertentu terhadap serangan atau penyebaran unsur penyebab penyakit menular tertentu berdasarkan tingkat kekebalan sejumlah tertentu anggota kelompok tersebut.
Herd Immunity merupakan faktor utama dalam proses kejadian wabah di masyarakat serta kelangsungan penyakit pada suatu kelompok penduduk tertentu.
Wabah terjadi karena 2 keadaan :
  1. Keadaan kekebalan populasi yakni suatu wabah besar dapat terjadi jika agent penyakit infeksi masuk ke dalam suatu populasi yang tidak pernah terpapar oleh agen tersebut atau kemasukan suatu agen penyakit menular yang sudah lama absen dalam populasi tersebut.
  2. Bila suatu populasi tertutup seperti asrama, barak dimana keadaan sangat tertutup dan mudah terjadi kontak langsung, masuknya sejumlah orang-orang yang peka terhadap penyakit tertentu dalam populasi tsb. Ex: Asrama mahasiswa/tentara.
C. Langkah-Langkah jika terjadi wabah
LANGKAH-LANGKAH INVESTIGASI WABAH
1. Konfimasi / menegakkan diagnosa
  • Definisi kasus
  • Klasifikasi kasus dan tanda klinik
  • Pemeriksaan laboratorium
2. Menentukan apakah peristiwa itu suatu letusan/wabah atau bukan
  • Bandingkan informasi yang didapat dengan definisi yang sudah ditentukan tentang KLB
  • Bandingkan dengan incidende penyakit itu pada minggu/bulan/tahun sebelumnya
3. Hubungan adanya letusan/wabah dengan faktor-faktor waktu, tempat dan orang
  • Kapan mulai sakit (waktu)
  • Dimana mereka mendapat infeksi (tempat)
  • Siapa yang terkena : (Gender, Umur, imunisasi, dll)
4. Rumuskan suatu hipotesa sementara
  • Hipotesa kemungkinan : penyebab, sumber infeksi, distribusi penderita (pattern of disease)
  • Hipotesa : untuk mengarahkan penyelidikan lebih lanjut
5. Rencana penyelidikan epidemiologi yang lebih detail Untuk menguji hipotesis :
  • Tentukan : data yang masih diperlukan sumber informasi
  • Kembangkan dan buatkan check list.
  • Lakukan survey dengan sampel yang cukup
6. Laksanakan penyelidikan yang sudah direncanakan
Lakukan wawancara dengan :
a. Penderita-penderita yang sudah diketahui (kasus)
b. Orang yang mempunyai pengalaman yang sama baik mengenai waktu/tempat terjadinya penyakit, tetapi mereka tidak sakit (control)
  • Kumpulkan data kependudukan dan lingkungannya
  • Selidiki sumber yang mungkin menjadi penyebab atau merupakan faktor yang ikut berperan
  • Ambil specimen dan sampel pemeriksa di laboratorium
7. Buatlah analisa dan interpretasi data
  • Buatlah ringkasan hasil penyelidikan lapangan
  • Tabulasi, analisis, dan interpretasi data/informasi
  • Buatlah kurva epidemik, menghitung rate, buatlah tabel dan grafik-grafik yang diperlukan
  • Terapkan test statistik
  • Interpretasi data secara keseluruhan
8.Test hipotesa dan rumuskan kesimpulan
  • Lakukan uji hipotesis
  • Hipotesis yang diterima, dpt menerangkan pola penyakit :
a. Sesuai dengan sifat penyebab penyakit
b. Sumber infeksi
c. Cara penularan
d. Faktor lain yang berperan
9. Lakukan tindakan penanggulangan
  • Tentukan cara penanggulangan yang paling efektif.
  • Lakukan surveilence terhadap penyakit dan faktor lain yang berhubungan.
  • Tentukan cara pencegahan dimasa akan datang
10. Buatlah laporan lengkap tentang penyelidikan epidemiologi tersebut.
  • Pendahuluan
  • Latar Belakang
  • Uraian tentang penelitian yang dilakukan
  • Hasil penelitian
  • Analisis data dan kesimpulan
  • Tindakan penanggulangan
  • Dampak-dampak penting
  • Saran rekomendasi
D. Penanggulangan KLB
Penanggulangan KLB :
Upaya penanggulangan ini meliputi pencegahan penyebaran KLB, termasuk pengawasan usaha pencegahan tersebut dan pemberantasan penyakitnya. Upaya penanggulangan KLB yang direncanakan dengan cermat dan dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait secara terkoordinasi dapat menghentikan atau membatasi penyebarluasan KLB sehingga tidak berkembang menjadi suatu wabah (Depkes, 2000).
Penanggulangan KLB dikenal dengan nama Sistem Kewaspadaan Dini (SKD-KLB), yang dapat diartikan sebagai suatu upaya pencegahan dan penanggulangan KLB secara dini dengan melakukan kegiatan untuk mengantisipasi KLB. Kegiatan yang dilakukan berupa pengamatan yang sistematis dan terus-menerus yang mendukung sikap tanggap/waspada yang cepat dan tepat terhadap adanya suatu perubahan status kesehatan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data kasus baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi terjadi KLB secara mingguan sebagai upaya SKD-KLB. Data-data yang telah terkumpul dilakukan pengolahan dan analisis data untuk penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi (Dinkes Kota Surabaya, 2002).
Berdasarkan Undang-undang No. 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular serta Peraturan Menteri Kesehatan No. 560 tahun 1989, maka penyakit DBD harus dilaporkan segera dalam waktu kurang dari 24 jam. Undang-undang No. 4 tahun 1984 juga menyebutkan bahwa wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat, yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Dalam rangka mengantisipasi wabah secara dini, dikembangkan istilah kejadian luar biasa (KLB) sebagai pemantauan lebih dini terhadap kejadian wabah. Tetapi kelemahan dari sistem ini adalah penentuan penyakit didasarkan atas hasil pemeriksaan klinik laboratorium sehingga seringkali KLB terlambat diantisipasi (Sidemen A., 2003).
Badan Litbangkes berkerja sama dengan Namru 2 telah mengembangkan suatu sistem surveilans dengan menggunakan teknologi informasi (computerize) yang disebut dengan Early Warning Outbreak Recognition System (EWORS). EWORS adalah suatu sistem jaringan informasi yang menggunakan internet yang bertujuan untuk menyampaikan berita adanya kejadian luar biasa pada suatu daerah di seluruh Indonesia ke pusat EWORS secara cepat (Badan Litbangkes, Depkes RI). Melalui sistem ini peningkatan dan penyebaran kasus dapat diketahui dengan cepat, sehingga tindakan penanggulangan penyakit dapat dilakukan sedini mungkin. Dalam masalah DBD kali ini EWORS telah berperan dalam hal menginformasikan data kasus DBD dari segi jumlah, gejala/karakteristik penyakit, tempat/lokasi, dan waktu kejadian dari seluruh rumah sakit DATI II di Indonesia (Sidemen A., 2003)

Penyelidikan Epidemiologi

Penyelidikan Epidemiologi terbagi dua, yakni :
a. Penyelidikan Epidemiologi penyakit menular seperti malaria, TB Paru, campak
b. Penyelidikan Epidemiologi penyakit tidak menular seperti kematian ibu dan lahir mati/kematian bayi.

Berikut ini penjelasannya:

MALARIA
Pertama kita harus menyelidiki apakah benar di suatu wilayah tersebut terkena malaria?
Gejala penyakit malaria
1. Gejala malaria ringan :
- Demam menggigil secara berkala dan biasanya disertai sakit kepala
- Pucat karena kurang darah
- Kadang-kadang di mulai dengan badan terasa lemah, mual/muntah tidak nafsu makan.
- Gejala spesifik daerah, seperti diare pada anak
2. Gejala malaria Berat :
- Kejang-kejang
- Kehilangan kesadaran
- Kuning pada mata
- Panas tinggi
- Kencing berwarna tua
- Nafas cepat
- Muntah terus
- Pingsan sampai koma
Bila terbukti di suatu wilayah tidak ada orang yang terkena malaria maka kita hanya perlu melakukan penyuluhan untuk penyegahan
a. Menghindari gigitan nyamuk, Tidur memakai kelambu, menggunakan obat nyamuk, memakai obat oles anti nyamuk, pasang kawat kasa pada ventilasi, menjauhkan kandang ternak dari rumah, kurangi berada di luar rumah pada malam hari.
b. Pengobatan pencegahan, 2 hari sebelum berangkat ke daerah malaria, minum obat doksisilin 1 x 1 kapsul/ hari sampai 2 minggu setelah keluar dari lokasi endemis malaria.
c. Membersihkan lingkungan, Menimbun genangan air, membersihkan lumut, gotong royong membersihkan lingkungan sekitar, mencegahnya dengan kentongan.
d. Menebar kan pemakan jentik, Menekan kepadatan nyamuk dengan menebarkan ikan pemakan jentik. Seperti ikan kepala timah, nila merah, gupi, mujair dll.
Bila terbukti positif di suatu wilayah banyak yang terkena malaria maka tidak hanya di lakukan penyuluhan tetapi juga dilakukan pengobatan
Ada tiga faktor yang harus diperhatikan dalam pengobatan malaria yaitu : jenis plasmodium yang menginfeksi, keadaan klinis pasien (usia dan kehamilan) dan jenis obat yang cocok untuk plasmodium penginfeksi. Jenis obat yang cocok terggantung dari daerah geografis tempat plasmodium tersebut hidup. Hal tersebut karena adanya plasmodium yang sudah resisten terhadap beberapa obat pada daerah daerah tertentu. Jadi pengobatan malaria tidaklah bisa dikatakan mudah. Diperlukan dokter yang berpengalaman dalam hal ini untuk dapat memberikan pengobatan yang pas.
Malaria ringan dapat diberikan obat oral sedangkan malaria berat yang mempunyai gejala klinis perdarahan harus di observasi di rumah sakit dengan pengobatan intra vena.

Tuberculosis Paru (TB Paru)
Sama seperti malaria, kita harus memastikan apakah benar suatu wilayah, warganya banyak yang terserang TB klo tidak maka kita bias melakukan pencegahan dengan dilakukan penyuluhan dan pengertian tentang apa itu TB dan bagaimana gejalanya
• Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih
Dan Gejala lain yang sering dijumpai :
• Dahak bercampur darah
• Batuk darah
• Sesak nafas dan rasa nyeri dada
• Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun, rasa kurang enak badan(malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari satu bulan.
Bila sudah terbukti banyak yang terkena kita harus segera memberikan pebgobatan . Program pengobatan dikenal dengan nama DOTS (Direct Observed Treatment Shortcourse). Obat yang digunakan adalah kombinasi dari Rifampicin, Isoniazid, Pyrazinamid, Ethambutol, dan Streptomycin. Pengobatan dilakukan dalam waktu 6-8 bulan secara intensif dengan diawasi seorang PMO (Pengawas Menelan Obat) untuk meningkatkan ketaatan penderita dalam minum obat.

CAMPAK
Sebenarnya campak adalah jenis penyakit yang sudah banyak di ketahui orang bahkan sekarang anak anak sudah di imunisasi salah satunya imunisasi dari penyakit campak. Jadi bila ada anak-anak atau orang dewasa yang terkena campak iyu sudah hal ynag dewasa dan campak bisanya menulari manusia sekali dalam seumur hidup.jadi bila di temukan ada yang terkena campak segera lakukan pengobatan
Pengobatan campak dilakukan dengan mengobati gejala yang timbul. Demam yang terjadi akan ditangani dengan obat penurun demam. Jika anak mengalami diare maka diberi obat untuk mengatasi diarenya. Batuk akan diatasi dengan mengobati batuknya. Dokter pun akan menyiapkan obat anti kejang bila anak punya bakat kejang.
Intinya, segala gejala yang muncul harus diobati karena jika tidak, maka campak bisa berbahaya. Dampaknya bisa bermacam-macam, bahkan bisa terjadi komplikasi. Perlu diketahui, penyakit campak dikategorikan sebagai penyakit campak ringan dan yang berat. Disebut ringan, bila setelah 1-2 hari pengobatan, gejala-gejala yang timbul membaik. Disebut berat bila pengobatan yang diberikan sudah tak mempan karena mungkin sudah ada komplikasi.
Komplikasi dapat terjadi karena virus campak menyebar melalui aliran darah ke jaringan tubuh lainnya. Komplikasi ini bisa terjadi cepat selama berlangsung penyakitnya.
Gejala ensefalitis yaitu kejang satu kali atau berulang, kesadaran anak menurun, dan panasnya susah turun karena sudah terjadi infeksi “tumpangan” yang sampai ke otak. Lain halnya, komplikasi radang paru-paru ditandai dengan batuk berdahak, pilek, dan sesak napas. Jadi, kematian yang ditimbulkan biasanya bukan karena penyakit campak itu sendiri, melainkan karena komplikasi. Umumnya campak yang berat terjadi pada anak yang kurang gizi.
Anjuran :
- Bila  campaknya ringan, anak cukup dirawat di rumah. Kalau campaknya berat atau sampai terjadi komplikasi maka harus dirawat di rumah sakit.
- Anak  perlu dirawat di tempat tersendiri agar tidak menularkan penyakitnya kepada yang lain. Apalagi bila ada bayi di rumah yang belum mendapat imunisasi .
- Beri penderita asupan makanan bergizi seimbang dan  cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Makanannya harus mudah dicerna, karena anak campak rentan terjangkit infeksi lain, seperti radang tenggorokan, flu, atau lainnya. Masa rentan ini masih berlangsung sebulan setelah sembuh karena daya tahan tubuh penderita yang masih lemah.
- Lakukan pengobatan yang tepat dengan berkonsultasi pada dokter.
- Jaga kebersihan tubuh anak dengan tetap memandikannya.
- Anak perlu beristirahat yang cukup.

Kematian Ibu
Kematian ibu bukan 100% dikarenakan suatu penyakit akan tetapi bisa karena pendarahan atau salah dalam penanganan saat melahirkan (kecelakaan). Oleh karena jenis ini paling cocok bila dicegah dari pada di obati.

Faktor risiko bagi kematian ibu (mortalitas) antara lain:
Faktor-faktor reproduksi
1.       Usia
2.       Paritas
3.       Kehamilan tak diinginkan


Faktor-faktor komplikasi kehamilan
1. Perdarahan pada abortus spontan/alamiah
2. Kehamilan ektopik/diluar cavum endometrium
·         Perdarahan pada trimester III kehamilan
·         Perdarahan postpartum
·         Infeksi nifas
·         Gestosis/keracunan kehamilan
·         Distosia/kesulitan persalinan
·         Abortus provokatus

Faktor-faktor pelayanan kesehatan
·         Kesukaran untuk memperoleh pelayanan kesehatan
·         Asuhan medis yang kurang baik
·         Kekurangan tenaga terlatih dan obat-obat esensial

Faktor-faktor sosial budaya
·         Kemiskinan dan ketidakmampuan membayar pelayanan yang baik
·         Ketidaktahuan dan kebodohan
·         Kesulitan transportasi
·         Status wanita yang rendah
·         Pantangan makanan tertentu pada wanita hamil

Pencegahan yang bisa di lakukan :
• Kurangi resiko melahirkan seminimal mungkin, melahirkan di rumah sakit atau melahirkan dengan di bantu tenaga medis yang sudah ahli dan pakarnya dalam hal membantu persalinan, pilih tempat yang fasilitasnya memenuhi.
• Rajin periksa ketika hamil terutama ketika waktu mau melahirkan agar abisa di rencanakan sejak dini
• Ikuti prosedur yang sudah di tentukan oleh pemerintah. Contoh tidak boleh melahirkan di bawah umur 17 tahun.

 
Kematian Bayi
Hampir Sama seperti kematian ibu, saya hanya bisa memberikan saran bagaimana mengurangi resiko kematian bayi secara mendadak
• Usahakan bayi tidur dalam boks yang tidak dipenuhi mainan Gunakan boks bayi untuk menghindari risiko jatuh. Cara ini lebih aman untuk melindungi bayi Anda, ketimbang meletakkan boneka, bantal ataupun selimut tebal di pinggir ranjang.
• Lindungi bayi Anda dari asap rokok Bayi yang menghirup asap rokok mempunyai risiko yang lebih tinggi terserang sidroma mematikan ini. Tidak merokok selama kehamilan dan tidak mendekatkan bayi Anda pada asap merokok setelah lahir bisa membantu Anda menjaga buah hati.
• Biarkan bayi terlelap lebih lama Sebaiknya tidak menidurkan bayi di atas sofa atau ranjang Anda. Karena, jika diletakkan pada permukaan datar, hal itu justru akan mengurangi porsi tidur si kecil. Biarkan si kecil tidur nyenyak dalam boks atau ayunan bayi lebih lama.
• Kenakan busana berbahan nyaman saat menimang bayi Pakaian yang Anda kenakan ternyata bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan tersendiri untuk si kecil, pilih pakaian dengan bahan nyaman dan menyerap keringat, seperti katun. Perlu Anda tahu, bahan pakaian juga bisa menjaga suhu pada tingkat nyaman untuk orang dewasa dan untuk menjaga bayi agar tetap tenang.
• Gunakan kipas Cara mudah untuk menjaga bayi Anda dari overheating adalah dengan menggunakan kipas angin di kamar bayi. Cara ini dinilai bisa membantu mendinginkan udara dalam kamar. Pada kenyataannya, sebuah studi dari Archives of Pediatrics melaporkan bahwa bayi yang tidur di kamar bayi menggunakan kipas udara ventiliate bisa mengalahkan 72% penurunan risiko sidroma kematian bayi secara mendadak ini. Jika Anda tidak memiliki kipas angin di kamar bayi, bisa menggunakan kipas manual. Usahakan angin dari kipas tidak langsung mengenai si kecil, karena sedikit hembusan angin lembut saja sudah bisa membuat bayi Anda tenang dan nyaman.

Epidemiologi dan Peranannya didalam Pemecahan Masalah Kesehatan Masyarakat

1. Pengertian Epidemiologi
Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang distribusi penyakit dan determinannya pada manusia (Mac Mahon & Pugh, 1970). Distribusi penyakit dapat dideskripsikan menurut orang (usia, jenis kelamin, ras), tempat (penyebaran geografis), dan waktu, sedangkan pengkajian determinan penyakit mencakup penjelasan pola distribusi penyakit tersebut menurut faktor-faktor penyebabnya.
2. Ruang Lingkup Epidemiologi
Ruang lingkup epidemiologi mencakup:

  • Penyakit menular wabah
  • Penyakit menular bukan wabah
  • Penyakit tidak menular
  • Masalah kesehatan lainnya
Secara praktis ruang lingkup epidemiologi lapangan dan komunitas dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu studi mengenai fenomena dan studi mengenai penduduk, sedangkan ruang lingkup epidemiologi klinik yang mempelajari mengenai peristiwa klinik serta kaitannya dengan riwayat alamiah penyakit.
Keunikan epidemiologi jika dibandingkan dengan cabang-cabang ilmu kedokteran dan ilmu kesehatan lain adalah:
  1. Epidemiologi tidak mempelajari individu, melainkan kelompok orang.
  2. Epidemiologi membandingkan satu kelompok dengan kelompok lainnya dalam masyarakat.
  3. Epidemiologi mempelajari apakah kelompok dengan kondisi tertentu lebih sering memiliki kondisi tertentu daripada kelompok tanpa kondisi tersebut. Kelompok yang lebih sering memiliki kondisi tertentu tersebut dinamakan kelompok beresiko tinggi (high risk group).
3. Tujuan Studi Epidemiologi
Tujuan studi epidemiologi adalah:
  1. Mendiagnosis masalah kesehatan masyarakat.
  2. Menentukan riwayat alamiah dan etiologi penyakit.
  3. Menilai dan merencanakan pelayanan kesehatan.
Ketiga tujuan tersebut dicapai dengan melakukan surveilans epidemiologi dan penelitian epidemiologi.
Surveilans epidemiologi meliputi:
  1. Pengumpulan data secara sistematis dan kontinyu.
  2. Pengolahan, analisis dan interpretasi data sehingga menghasilkan informasi.
  3. Penyebarluasan informasi tersebut kepada instansi yang berkepentingan.
  4. Penggunaan informasi tersebut untuk pemantauan, penilaian, dan perencanaan program kesehatan.
4. Manfaat Epidemiologi

Apabila epidemiologi dapat dipahami dan diterapkan dengan baik, akan diperoleh berbagai manfaaat yang jika disederhanakan dapat dibedakan menjadi 4 macam, yaitu:
  1. Membantu pekerjaan administrasi kesehatan
    Manfaat epidemiologi dalam administrasi kesehatan, yakni membantu pekerjaan perencanaan (planning) dari pelayanan kesehatan. Selain itu, epidemiologi juga bermanfaat dalam pemantauan (monitoring) dan penilaian (evaluation) suatu upaya kesehatan. Data yang diperoleh dari pekerjaan epidemiologi akan dapat dimanfaatkan untuk melihat apakah upaya yang dilakukan telah sesuai dengan rencana atau tidak (pemantauan) dan ataukah tujuan yang diterapkan telah tercapai atau tidak (penilaian).
  2. Dapat menerangkan penyebab suatu masalah kesehatan
    Dengan diketahuinya penyebab suatu masalah kesehatan, dapat disusun langkah-langkah penanggulangan selanjutnya, baik yang bersifat pencegahan dan ataupun yang bersifat pengobatan.
  3. Dapat menerangkan perkembangan alamiah suatu penyakit
    Dengan menggunakan metoda epidemiologi dapatlah diterangkan riwayat alamiah perkembangan suatu penyakit (natural history of disease). Bantuan epidemiologi dalam menerangkan perkembangan alamiah suatu penyakit adalah melalui pemanfaatan keterangan tentang frekuensi dan penyebaran penyakit, terutama penyebaran penyakit menurut waktu muncul dan berakhirnya suatu penyakit, dapatlah diperkirakan perkembangan penyakit tersebut.
  4. Dapat menerangkan keadaan suatu masalah kesehatan
    Karena epidemiologi mempelajari tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan, maka akan diperoleh keterangan tentang keadaan masalah kesehatan tersebut. Keadaan yang dimaksud merupakan perpaduan dari keterangan menurut ciri-ciri manusia, tempat dan waktu. Perpaduan yang seperti ini menghasilkan 4 keadaan masalah kesehatan, yakni:
  •    Epidemi
    Epidemi adalah keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit) yang ditemukan pada suatu daerah tertentu dalam waktu yang singkat berada dalam frekuensi yang meningkat.
  • Pandemi
    Pandemi adalah suatu keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit) frekuensinya dalam waktu yang singkat memperlihatkan peningkatan yang sangat tinggi serta penyebarannya telah mencakup suatu wilayah yang sangat luas.
  • Endemi
    Endemi adalah suatu keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit) frekuensinya pada suatu wilayah tertentu menetap dalam waktu yang lama.
  • Sporadik
    Sporadik adalah suatu keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit) yang ada di suatu wilayah tertentu frekuensinya berubah-ubah menurut perubahan waktu.
5. Pengaplikasian Epidemiologi
Epidemiologi dapat diaplikasikan dalam kegiatan penelitian epidemiologi misalnya tentang kasus KLB / wabah demam berdarah di suatu wilayah. Langkah-langkah yang harus dilewati, meliputi:
  1. Garis besar pelacakan wabah
    Pengumpulan data dan informasi secara seksama langsung di lapangan atau tempat kejadian wabah demam berdarah. Kemudian data tersebut di analisis secara teliti dan dengan pemikiran yang kritis. 
  2. Analisis situasi awal
    • Penentuan atau penegakan diagnosis
    Untuk dapat mendiagnosis seseorang terkena demam berdarah diperlukan penelitian atau pengamatan klinis dan pemeriksaan laboratorium yang jelas. Hal ini karena gejala demam berdarah dapat salah diagnosa, bahkan pemeriksaan laboratorium terkadang harus dilakukan lebih dari 1 kali.
    • Penentuan adanya wabah
    Untuk menetukan apakah kasus yang sedang diteliti masuk dalam KLB atau tidak, maka perlu diusahakan melakukan perbandingan keadaan jumlah kasus demam berdarah sebelumnya dengan yang sedang diteliti di wilayah yang sama. Untuk melihat apakah terjadi kenaikan jumlah kasus demam berdarah yang signifikan atau tidak.
    • Uraian keadaan wabah
    Jika kasus demam berdarah tersebut dinyatakan KLB / wabah, maka dilakukan uraian keadaan wabah berdasarkan 3 unsur utama, yaitu waktu, tempat dan orang. Kemudian dibuat kurva epidemi yang menggambarkan penyebaran kasus demam berdarah menurut waktu mulai timbulnya gejala demam berdarah di wilayah yang bersangkutan.selain itu, juga menggambarkan penyebaran sifat epidemi berdasarkan penyebaran kasus menurut tempat (spot map epidemi). Dilakukan berbagai perhitungan epidemiologi seperti perhitungan angka kejadian penyakit pada populasi dengan risiko menurut umur, jenis kelamin, pekerjaan, keterpaparan terhadap faktor tertentu serta berbagai sifat orang lainnya yang mungkin berguna dalam analisis.
  3. Analisis lanjutan
Setelah kasus demam berdarah di wilayah yang sedang diteliti dikategorikan sebagai KLB / wabah, maka perlu dilakukan penelitian lanjut dan analisis yang berkesinambungan selain dilakukan tindak penanggulangan.
a. Usaha penemuan kasus tambahan
Perlunya penelusuran terhadap kemungkinan adanya kasus yang tidak dikenal dan kasus yang tidak dilaporkan melalui berbagai cara.
1) Melakukan pengamatan di rumah sakit dan dokter praktek umumsetempat untuk mencari kemungkinan mereka menemukan kasus penderita demam berdarah dan belum termasuk dalam laporan yang ada.
2) Melakukan pengamatan yang intensif terhadap mereka yang tanpa gejala atau mereka dengan gejala ringan / tidak spesifik tetapi berpotensi menderita demam berdarah.
b. Analisis data
Melakukan analisis data secara berkesinambungan sesuai dengan tambahan informasi yang didapatkan dan melaporkan hasil interpretasi data tersebut.
c. Melakukan hipotesis
Berdasarkan hasil analisis data dari seluruh kegiatan yang telah dilakukan,
kemudian dilakukan penarikan hipotesis tentang keadaan yang diperkirakan. Kesimpulan dari semua fakta yang ditemukan dan diketahui harus sesuai dengan apa yang ada pada hipotesis tersebut.
d. Tindakan penanggulangan
Diambil tindakan-tindakan untuk menanggulangi kasus KLB demam berdarah tersebut. Tindakan diambil berdasarkan hasil analisa dan sesuai dengan keadaan KLB yang terjadi. Setiap tindakan penanggulangan KLB harus disertai dengan berbagai kegiatan tindak lanjut sampai keadaan kembali
normal.
DAFTAR PUSTAKA

Budioro, B. 2007. Pengantar Epidemiologi edisi II. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro
Nasry, Nur. 2006. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta: PT Rineka Cipta
Azwar, Azrul. 1988. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: PT Binarupa Aksara
http://arviant.web.ugm.ac.id/content/Epidemiologi%20dasar.pdf
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/epidemiologi_kebidanan/bab1-definisi_epidemiologi.pdf
Ilmu Kedokteran Pencegahan Komunitas Oleh Dr. Budiman Chandra
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/epidemiologi_kebidanan/bab3-epidemiologi_deskriptif.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3739/1/fkm-lina%20tarigan.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19934/5/Chapter%20I.pdf
http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1088-penyakit-yang-baru-muncul-ancaman-masa-mendatang.html